Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

[TravelStory] Pesona Dingin Dieng


Ini tepat satu tahun saat pada tanggal ini satu tahun yang lalu ooppie pergi ke Dieng. Untuk acara kampus dalam rangka mengenal budaya Dieng.
  
Aroma dingin sudah terpapar ketika memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng. Udara sejuk dan hamparan hijau tumbuhan memanjakan tubuh dalam pesona alam yang eksotis. Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan wisata yang menawarkan keindahan alamnya dan budaya unik para penduduknya. Terletak di Kabupaten Wonosobo, 145 km dari Kota Semarang. Saya dan rombongan memang sengaja berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng untuk mempelajari budaya penduduk setempat.
Terpaan angin disertai hujan rintik menyambut kedatangan kami. Cuaca memang sedang mendung saat kami menginjakkan kaki di Dieng Plateau Teater.
Dieng Plateau Teater merupakan sarana pendukung dalam mengenalkan wilayah Dataran Tinggi Dieng melalui sebuah film. Hal itu sebagai sarana pendidikan, kebudayaan, pengenalan potensi wisata serta hiburan. Ruangan tersebut memiliki kapasitas 100 kursi dengan durasi film sekitar 20 menit.
Bersyukur Saya mendapat giliran pertama memasuki Dieng Plateau Teater. Dalam film tersebut berisi tentang informasi mengenai kawah-kawah yang ada di sekitar Dieng. Juga beberapa danau vulkanik yang terbentuk akibat aktifitas gunung merapi yang masih bisa dirasakan walau sedang tidur. Liputan mengenai budaya ruwatan rambut gimbal juga tersaji dalam film tersebut.
Selesai melihat film, Saya dan rekan-rekan berjalan di sekitar sambil menikmati pemandangan yang luar biasa menakjubkan.
Kami melihat pedagang kaki lima yang ada di dekat Dieng Plateau Teater. Sebagian besar menjajakan kentang goreng. Makanan kesukaan saya ternyata menjadi camilan khas wilayah ini.
Di belakang lapak pedagang tersebut, Saya melihat sebuah tangga. Saya penasaran kemana tangga itu akan berujung. Bersama dengan teman-teman, kami menuruni tangga-tangga yang masih nampak alami itu.
Lebatnya pepohonan mengaburkan pandangan kami. Tapi setelah kami semakin turun, ternyata kami dibuat takjub dengan pemandangan Danau Tiga Warna yang menjadi icon Dataran Tinggi Dieng.
Danau Tiga Warna merupakan Danau Vulkanik yang memiliki kandungan belerang. Saat mentari menerpa permukaannya, maka akan terpancar sinar warna-warni akibat dari kandungan mineralnya. Terkadang hijau, biru ataupun kuning.
Kami melihat danau dari ketinggian, sehingga nampak jelas dan indah. Walau begitu kami masih penasaran untuk tetap mendekati danau itu. Saat sampai di tepian danau, ada sebuah ranting pohon yang menjorok ke danau. Menambah keeksotikan Danau Tiga Warna.
Penduduk setempat memiliki kepercayaan atau mitos bahwa dahulu ada cincin milik bangsawan yang bertuah terjatuh ke dalam danau tersebut dan mengeluarkan warna-warni yang tampak seperti sekarang.
Fasilitas di tempat tersebut cukup lengkap. Layaknya wahana wisata yang bisa dikunjungi setiap orang. Ada cukup kamar mandi bersih dengan airnya yang dingin. Di sekitarnya ada pendopo-pendopo untuk peristirahatan, juga tempat sampah di sekeliling untuk menjaga kebersihan kawasan wisata Danau Tiga Warna.
Ranting-ranting yang menjorok di tepian danau menambah nuansa keindahan Danau Tiga Warna. Lelah dan penat selama perjalanan terbayar sudah dengan panorama yang ada di Danau Tiga Warna.



Sabtu, 22 September 2012

[CERPEN] Helm Koran


            Libur sekolah telah selesai, anak-anak sekolah harus bersiap kembali ke sekolah dengan segala cerita dan unek-uneknya. Namaku Roto dalam bahasa jawa artinya Rata entah mengapa orang tuaku memberi nama itu, tapi mungkin harapan orang tuaku, hidupku menjadi rata tanpa ada hambatan. Namun sepertinya doa itu belum terkabul juga karena aku sering merasakan keapesan yang tak jarang. Kalau pun bukan aku yang mengalami keapesan tetap saja seringkali jika ada aku, keapesan itu terjadi.
            Aku tergopoh-gopoh memasuki kelas sambil membawa helm abu-abu kesayanganku. Sebentar lagi bel sekolah berdengung panjang pertanda seluruh siswa harus sudah duduk manis di dalam kelas. Langsung aku menuju bagian belakang kelas, tempat lemari helm bersemayam di sana.
Di sekolahku setiap kelas memang disediakan satu lemari untuk menyimpan berkas. Namun sepertinya lemari itu sudah beralih fungsi sebagai penyimpanan helm para siswa. Sudah banyak kasus kehilangan helm yang terjadi di sekolahku, karena itulah kami tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan helm kami berada di motor.
Aku menatap lemari itu dengan bingung, tak biasanya lemari itu penuh dengan helm. Kalaupun full biasanya aku tetap dapat tempat. Hanya beberapa anak yang membawa helmnya ke kelas.  
            Kulihat ada satu helm asing yang sudah nangkring di laci kedua tempat biasa aku meletakkan helm. Helm itu berwarna putih dengan hiasan-hiasan koran yang seolah-olah ditempel di helm itu, kalau dilihat sekilas sih memang seperti koran tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, ternyata itu gambar tengkorak. Gubrak!!
            “Ini helm siapa yaa??” tanyaku bertepatan dengan bel sekolah yang akhirnya berbunyi. Beberapa temanku yang baru saja dari kantin memasuki kelas. Kuulangi sekali lagi pertanyaanku karena tak ada sahutan.
            Teman sebangkuku melihat ke arahku. Ia baru saja datang dari kantin untuk sarapan. Sambil cengar-cengir Ia mengangkat tangannya tanpa bersuara. Aku langsung sadar kalau itu helmnya. Kutaruh helmku dilantai tak peduli dengan tempat helmku yang sudah ditempati. Aku berjalan kearahnya sekaligus juga menempati bangkuku.
            “Cieeee… helm baru nih El,” godaku padanya. Aku tak tersinggung tempat mangkal helmku diambil olehnya. Pendatang baru harus dihormati. Ceilaah..
            “Ah enggak kok.., baru lihat kali. Belinya udah dari kemarin,” katanya merendah.
            Aku hanya tersenyum jahil. El pasang tampang cuek walaupun sebenarnya dalam hati Ia senang karena helm barunya aku perhatikan. Aku bertanya-tanya padanya mengenai helm itu, belinya dimana, harganya berapa, kenapa pilih itu, dan semua jawabannya adalah senyum dan diam.
            El ini memang sok cool sekali. Akhirnya aku lelah sendiri karena tidak ada sahutan jawaban dari dirinya. Tetapi aku tidak tersinggung dengan sikap El itu, karena dia memang orangnya seperti itu.
            Aku memainkan jemari tangan kananku dan mengetuk-ngetukkannya di meja. Sedangkan tangan kiriku hanya bertopang dagu. Ini sudah satu jam dari jeritan bel masuk sekolah, tetapi belum ada tanda-tanda wali kelas kami yang juga mengajar agama Islam masuk ke dalam kelas. El akhirnya berinisiatif ke kantor memanggil wali kelas kami.
            Ia kembali tanpa membawa seseorang, “Bu Lia sedang opname di rumah sakit, sudah dua minggu ini beliau di rawat. Katanya habis operasi,” katanya memberi pengumuman kepada seisi kelas.
            Semua teman terkejut dan khawatir. Wali kelas kami tercinta. Walaupun bawel dan galak tetapi beliau sangat sayang kepada kami semua. Justru jika tak pernah memarahi kami berarti beliau sudah tak sayang dan tak peduli pada kami.
            Akhirnya kami sekelas berencana menjenguk Bu Lia sepulang sekolah. Supaya aman terkendali, kami menyewa angkot yang sering lalu lalang di depan sekolah kami, namun ternyata kapasitas mobil angkot tidak cukup untuk menampung semuanya. Semua anak cowok memilih naik motor termasuk aku dan El.
            Sampai di rumah sakit, kami melihat wali kelas kami terbaring dengan ceria. Tak ada wajah kesakitan ataupun lemah, bahkan beliau dengan santai memainkan infus yang tentu saja hanya suster yang boleh menghentikan atau mengalirkan cairan infus. Bu Lia menjalani operasi pengangkatan daging yang tumbuh di bagian perutnya dan ternyata Bu Lia sudah masuk rumah sakit sejak kami libur sekolah, tapi tak ada warga sekolah yang mengetahuinya. Baru ketika masa libur sekolah berakhir karena Bu Lia terus-menerus tidak masuk akhirnya semua orang tahu kalau Bu Lia masuk rumah sakit.
            Hari mulai gelap menjelang waktu maghrib. Kami berpamitan pulang pada Bu Lia dan berharap beliau segera sembuh. Aku dan El berpisah dengan teman-teman yang lain, kami berjalan menuju tempat parkiran motor.
            Kali ini giliran aku yang berada di depan menyetir motor. Saat kami sampai di motor, ada sesuatu yang janggal. Helm koran El menghilang. Ada bekas jok yang baru saja di sobek tempat tadi El meletakkan helmnya di dalam jok. Helm El dicuri.
            Kami berdua panik. Bertanya pada petugas pun mereka tak peduli, pandangan mereka mengatakan, urus saja helmmu sendiri, Kami tidak bertanggung jawab atas kehilangan helm. Aku kasihan pada El yang hanya bisa terdiam pasrah. Bagaimana bisa pulang tanpa membawa helm, teman-temanku juga rumahnya jauh dari tempat itu.
            “Gimana ini enaknya? Apa mau nerobos aja?” tanyaku pada El. Ia tampak berpikir dan akhirnya hanya bisa mengangguk. Kulihat angkot teman-teman kami baru saja keluar dari tempat parkir. Kami berdua melambaikan tangan pada mereka.
            El memandang dengan pandangan terkejut, “Yah! Kenapa tadi aku nggak bareng angkot aja, meski sempit kan masih bisa masuk!” katanya menyesal.
            Aku juga baru sadar dengan perkataan El barusan. Oh iya yah, kalau dia naik angkot kan bisa aman tanpa harus ketakutan jika nanti ada patroli polisi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, angkot itu sudah melenggang pergi dan hanya menyisakan jejak aspal pada kami yang kebingungan.
            Akhirnya mau tak mau kami berdua mengendarai motor dengan hanya satu helm yang kupakai. Aku juga was was dengan hal ini, yang kami lewati merupakan jalan protokol yang tentu saja harus mengikuti berbagai prosedur keselamatan. Pelan-pelan aku mencoba melewati jalan yang jarang dilalui oleh polisi.
            “Awas To.., ati-ati!!” peringat El. Dia heboh sekali takut ditangkap polisi. Aku tak kalah takut juga. Tangan ini sudah gemetaran sejak tadi.
            Sampai di pusat kotanya Semarang, simpang lima. Kami tidak melewati daerah simpang lima, tetapi melewati salah satu dari simpang tersebut, Jl Pahlawan. Untuk sampai di seberang Jl Pahlawan, kami harus menyebrangi Jl Pahlawan yang banyak polisi berlalu lalang.
            Tanpa helm koran El dengan terpaksa Ia harus berjalan menyebrang jalan dan aku pura-pura naik motor sendirian. Aku melihat kanan-kiri apakah ada polisi yang memperhatikan kami. El juga berjalan mengendap-endap walaupun tentu saja nampak terlihat seperti jalan biasa.
Tiba-tiba ada polisi lewat dengan mengendarai sepeda motor dinasnya. Aku menahan nafas takut dicurigai jika aku baru saja memboncengkan El yang tak menggunakan helm. Polisi itu benar-benar menghampiriku yang menjalankan sepeda motor pelan-pelan. El yang melihatku juga tak kalah panik dan tanpa Ia sadari Ia berdiri mematung.
“Dek standarnya!” kata polisi itu sambil menunjuk besi yang biasa menopang sepeda motor ketika berhenti agar tetap tegak berdiri.
Aku melongo terkejut sekaligus lega. Si Bapak polisi ternyata tidak curiga dengan ulahku yang barusan dan nantinya akan terjadi. Akhirnya El sukses menyebrang, aku menunggu El yang masih berjalan mendekatiku sambil berlari menggendong tas ranselnya. Kasihan juga Ia, gara-gara helm koran semua ini terjadi.
            “Hehehe.. sorry yaa..,” kataku tulus padanya.
            “Ngapain minta maap. Capcus bro…!!” El sudah menemukan kembali keceriaannya.
            Kami sampai sekolah dengan selamat. Aku mengambil motorku yang kutitipkan di sekolah dan El pulang ke rumah tanpa memakai helm koran-nya yang kini sudah berpindah tangan dengan terpaksa.

Sabtu, 21 Juli 2012

[KLMK] Bruuk! Plung! Byuur!

 Uw uw asyiknya bila bersepeda
Uw uw berkeliling kota Jakarta
Uw uw ku kayuh dengan suka cita
Uw uw ku rasakan indah dunia
Bila ku pergi bersepeda
Bersama dengan gembira
Senangnya hatiku (saat bersepeda) – RAN (Sepeda) 

Kudengar lirik reff lagu pop milik RAN yang berjudul sepeda. MP4ku berdengung dengan lembut mengingatkanku pada kejadian di masa lalu saat aku mulai belajar naik sepeda.

Kala itu aku masih berusia 4 tahun. Sebenarnya di usia itu masih dini untuk naik sepeda dengan roda dua. Tapi aku memang bengal, aku ingin roda 3 dan 4 ku dilepas dan aku bisa bersepeda kemana pun tanpa merasa terbebani. Menggunakan roda 2 memang lebih ringan daripada harus menarik 4 roda.

Aku merengek terus menerus meminta 2 roda kecilku dilepaskan. Akhirnya ayahku memilih mengalah untuk melepaskan roda itu.

Awal mula aku tak bisa mengayuh tanpa harus dipegangi oleh ayahku. Maklumlah.., sudah terbiasa dengan roda 4 yang tak harus belajar keseimbangan, kalau sekarang kan aku harus bisa menyeimbangkan sepeda seorang diri.

Ayahku memegang boncengan sepeda di bagian belakang sambil pelan-pelan aku mengayuh. Tak kusadari ternyata ayahku sudah tidak ada di belakangku. Aku mengayuh sepedaku sendiri bo!! Hebaaat!! *narsis.com

Sejak saat itu aku semakin senang bersepeda. Tentu saja start pertama masih di pegangi ayahku. Setelah itu aku bisa mengayuh sendiri, tapi jika berhenti aku butuh bantuan orang lain untuk memulai awal lagi.

Saking pedenya saat itu, maklum anak kecil nggak punya pikiran aneh-aneh. Aku bersepeda keliling kompleks perumahan yang lumayan luas untuk ukuran anak kecil. Aku berputar-putar dari RT 8 sampai RT 11 lalu melewati RTku – RT 7 – lurus hingga RT 2 lalu hendak kembali ke RTku.

Aku sampai di RT 5, di tempat itu ada mobil diam parkir di pinggir jalan. Aku santai saja karena aku bisa lewat di sampingnya. Tapi tepat saat aku hendak melewati mobil – sebut saja mobil A  -- yang sedang parkir, ada mobil – sebut mobil B -- yang berlawanan arah juga hendak lewat. Akhirnya aku mengalah dan berhenti di belakang mobil A lalu membiarkan mobil B lewat duluan. Saat mobil B sudah selesai lewat. Aku hendak mengayuh sepedaku dengan posisi masih di belakang mobil A.

Keringat dingin tanpa permisi menerobos keluar dari tubuhku. Aku baru sadar, aku belum pernah mengayuh sepeda tanpa bantuan orang lain. Siang itu sangat sepi sehingga tak ada yang bisa kumintai bantuan. Adapun juga aku terlalu malu untuk meminta orang lain yang belum aku kenal.

Kucoba mulai menekan pedal pelan-pelan. Aku tak sadar kalau di sampingku persis ada selokan menganga lebar sedalam tubuhku, mungkin sekitar 1 m. Tepat saat tekanan pedal pertama, tiba-tiba, Bruuk!! Plung!! Byuur!!

Aku terjatuh ke dalam got dan badanku sudah beralih warna menjadi hitam pekat dari ujung rambut hingga kaki. Bayangkan guys! Aku jatuh tengkurap di got yang cukup dalam dengan isi lumpur hitam yang luar biasa menjijikkan. Bayangkan! Hebatnya aku tak menangis. Hehe

Untung saat aku terjatuh, ada seorang Ibu yang keluar dari rumah sambil membawa pakaian hendak menjemur baju di halaman rumahnya. Melihatku terjatuh, Ia langsung lari membantuku naik dari selokan itu. Nggak bisa naik sendiri bo! Saking dalemnya.

Ibu itu mengajakku ke rumahnya dan memandikannku di halaman rumah. Walaupun masih bau selokan dan masih ada sisa-sisa warna hitam di bajuku, aku diantarkan ke rumah.

Sampai di rumah, saat bertemu dengan ibuku tiba-tiba saja semuanya keluar, Huaaaaaaaa!!!! Tangisku pecah saat itu juga. Menangis sejadi-jadinya sambil memperlihatkan luka-luka memar yang ada di tangan dan kakiku. Rupanya tukang ngadu aku. Hahaha

Mak,ane ikutan giveaway-nya ye,mak! Kasih ane hadiahnya yang tas tangan imut dari NikoNikoShop, ya!

Selasa, 17 Juli 2012

[KLMK] Selisih Paham

Rena memandang Nisyam sengit. Wajahnya menyiratkan kemarahan tak terkendali setelah melihat kelakuan Nisyam di papan tulis. Sebuah gambar manusia berwajah kelinci memakai kerudung terpampang di papan tulis kapur itu. Bagian atas gambar itu nampak jelas sebuah nama menunjukkan bahwa gambar itu bernama R-E-N-A.
                Nisyam dengan santainya dan tak peduli pada Rena yang hampir menangis. Ia pergi sambil tertawa-tawa bahagia karena telah membuat Rena malu. Lihat saja, semua teman sekelas malu-malu menertawai gambar itu. Terutama para anak laki-laki yang memang hobi meledek anak perempuan.
                “Kejaaaaaaam!!!” teriak Rena sambil melemparkan penghapus ke arah Nisyam yang sudah membelakangi Rena. Terang saja penghapus itu melayang tepat mengenai punggung Nisyam. Tampak bekas debu kotak tergambar jelas di punggungnya.
                Kali ini ganti Nisyam yang memandang Rena sengit. Tak terima dengan perlakuan Rena, Nisyam mengambil penghapus yang ada di meja guru dan melemparkannya ke Rena. Kena bahu Rena.
                “Sukuriiin…!” ledek Nisyam lalu lari menghindari Rena sambil tertawa-tawa. Nisyam merasa menang kali ini.
                Rena kesal bukan main. Tak peduli dengan rok panjang yang bisa menghambat larinya. Ia berlari sambil mengangkat rok hijau identitas sekolahnya. Mengejar Nisyam yang sudah berlari menuju ruangan di seberang gedung.
                Rena mencoba melemparkan penghapus lagi. Yeah! Tepat terkena di muka Nisyam yang hitam legam, membuatnya nampak sedikit putih :D
                Teman-teman Rena tidak terima dengan perlakuan Nisyam pada Rena. Mereka ikut membalas Nisyam dengan lemparan-lemparan kapur. Melihat Nisyam diperlakukan dengan semena-mena oleh anak perempuan, anak laki-laki pun bahu-membahu membela Nisyam. Terjadilah baku hantam penghapus dan kapur.
                Nisyam sudah berubah warna putih di sekujur tubuh. Rena hanya sedikit terkena debu kapur karena kedua penghapus berhasil dikuasai oleh anak perempuan.
                “Hiaaaat!!! Mati kau!! Mati kau!!” teriak Rena penuh dendam. Ia lemparkan lagi penghapusnya. Kali ini sedikit meleset sehingga hanya menyerempet paha Nisyam.
                Tergopoh-gopoh datang dua orang  dewasa dengan panik dan marah memandang kami semua yang masih saling berusaha memenangkan ego.
                “Astaghfirullahaladzim…!!! Anak-anak!! Hentikan ini!!” teriakannya menggelegar membuat mereka sejenak membeku.
                Bu Tina wali kelas mereka semua di kelas 3 SD. Semua anak sangat menghormatinya sebagai guru dan orang tua di sekolah. Tak ada yang berani membantah ucapannya. Tegas dan terhormat. Begitulah karakternya. Bulir air mata mulai bermunculan dari pelupuk mata indahnya.
                “Anak-anak Ibu kenapa jadi seperti ini… Anak-anak yang Ibu kenal sangat akur dan saling memaafkan. Ini bukan anak-anak Ibu… Anak-anak Ibu tidak akan berbuat seperti ini…,” katanya sesenggukan.
                “Nisyam dulu Bu yang mulai, dia menggambar jelek terus di tulis namaku di situ,” ucap Rena diikuti anak perempuan lain yang mengiyakan.
                “Rena dulu Bu. Awalnya Rena ngomongin Nisyam di belakang. Dia bilang Nisyam anak aneh, bodoh, nggak bisa apa-apa. Nisyam mau buktiin kalau Nisyam juga bisa bales Rena!” bela Nisyam.
                “Alaah.. Gitu aja sakit hati. Kayak anak perempuan aja,” cibir Rena.
                Nisyam hendak melayangkan balasan tapi dihentikan oleh Bu Tina.
“Tak ingatkah kalian sudah tiga tahun bersama? Hanya masalah sepele kalian bermusuhan seperti ini. Memang Ibu pernah mengajarkan kalian untuk berkelahi?”
Semuanya terdiam tak berusaha menjawab pertanyaan Bu Tina. “Ibu merasa telah menjadi guru yang gagal mendidik kalian. Selama ini Ibu mencoba untuk menjadi guru yang berguna, mencontohkan hal yang baik kepada kalian. Tapi ternyata Ibu belum berhasil, murid Ibu malah justru berkelahi, tak ada yang mau saling memaafkan.”
Rena berusaha berucap tapi Bu Tina menatap Rena dengan tatapan memohon untuk mendengarkannya sejenak. “Ibu sering bercerita tentang idola kita semua, Rasulullah. Beliau tidak pernah membalas perlakuan buruk yang Ia terima. Rasulullah dengan lapang dada memaafkan mereka. Bahkan ada orang yang berusaha membunuh Rasulullah tapi Rasul tetap saja memaafkan orang tersebut. Rasulullah yang nyawanya terancam saja masih bisa memaafkan, tidak bisakah kalian juga saling memaafkan?”
Anak-anak perempuan mulai saling sesenggukan. Anak laki-laki menunduk terdiam. Raut wajah mereka menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam. Tak ada yang berani bersuara, hanya suara tangisan pecah yang terdengar jelas. Bu Tina juga ikut menangis melihat anak-anaknya yang berbaris di depan saling menyesal.
“Sekarang, saling minta maaf. Tak boleh ada dendam di antara kalian..,” kata Bu Tina memandangi anak-anak tercintanya.
Rena dan Nisyam saling minta maaf diikuti oleh teman-temannya yang lain. Wajah cemberut masih terpampang di keduanya. Tapi demi sang guru mereka mau saling memaafkan. Walau awalnya terpaksa, tapi setelah itu mereka semua kembali tertawa dan bermain bersama. Masa kecil yang unik dan lucu, berantem, menangis, dan kemudian tertawa lagi.

Minggu, 15 Juli 2012

[CERPEN] Kloof (Luka)


 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0b/Pitstone-windmill.600px.jpg/150px-Pitstone-windmill.600px.jpg
Ray berjalan terseok-seok menopang tubuhnya yang kelelahan. Nampak sekelilingnya bunga tulip tergeletak tak bernyawa, bekas jejak-jejak kaki terhampar mengganggu pertumbuhan para tulip itu. Seperti baru saja ada kerusuhan.
Aku melihatnya dengan tatapan prihatin dan sungguh iba. Kalau aku punya kendali atas tubuhku, aku pun akan bangkit menolongnya. Ia mencoba bangkit dari tempatnya terjatuh, dari kejauhan Ray melihatku dengan tatapan minta tolong. Tapi aku hanya sebuah kincir angin tua yang masih kokoh berdiri walau dimakan usia.
“Ah! Aku ingin minum air,” ujar Ray pada diri sendiri. Segera Ray kumpulkan tenaga yang tersisa dan mencoba berjalan mendekatiku. Kerongkongannya memanas tatkala membayangkan berteguk-teguk air yang akan membasahi bibirnya.
Terdengar gemericik air deras, Ray semakin bersemangat melangkahkan kaki. Dilihatnya aliran air deras mengalir. Ia menangkupkan tangannya untuk mengambil air sungai itu dan langsung meneguk airnya.
“Hueeek!!! Ini air laut!!” umpatnya. Ia memuntahkan lagi air itu. Ray terduduk lesu di sampingku.
Mulailah aku mengingat kembali apa yang telah terjadi pada Ray.

Rabu, 13 Juni 2012

[KLMK] Edisi Sobek

Aku suka dengan roti sobek. Apalagi roti buatan w****r yg memang sudah terkenal kelezatannya di seantero Semarang. Sambil makan roti sobek aku keluar rumah hendak bermain bersama teman-temanku.
Saat itu jaman perburuan buah kersen. Buah merah dengan tekstur imut dan sangat lezat untuk disantap dalam perut keroncongan. Roti sobek milikku sudah ludes kulumat. Dan kini aku ikut teman-teman melakukan perburuan kersen.
"Hei! Di sana buahnya lebat!" teriak Riyan sambil menunjuk sebuah rumah kosong yang terletak di samping sawah dekat dengan SDku.
Kami berbondong-bondong menuju rumah kosong itu. Aku menelan ludah melihat rumah apa itu.
Sebuah rumah yg cukup megah di masa tahun 2000. Memiliki 2 lantai dengan balkon di atasnya. Kalau rumah itu dirawat sebenarnya akan menjadi hunian yang indah dan menjadi idaman. Sayang penghuninya memutuskan untuk tidak tinggal ditempat itu. Entah mengapa. Tapi bukan itu yg membuatku bergidik takut.
Di bagian atas pagar rumah itu, ada sebuah hiasan botol yg sedikit mirip dengan botol tempat tinggal jin di film Jin dan Jun. Konon kabarnya itu adalah tempat tinggal jin juga. Untungnya pohon kersen itu ada di ujung bagian depan rumah, jadi kami tak perlu berdekatan dengan pintu gerbang.
Mas Danar mengawali naik melewati pagar yang membatasi halaman dengan jalan. Diikuti Mas Nur dan kemudian Riyan. Para anak perempuan hanya menunggu di luar pagar karena kami tidak berani melewati pagar yang cukup runcing walaupun tidak terlalu tinggi. Sambil menunggu kami menyoraki mereka layaknya suporter sepak bola dan berbisik-bisik menunjukkan buah yang ingin dipetik pada tiga anak laki-laki itu. Kami tak berani berteriak karena kabarnya itu akan mengganggu jin yang beristirahat di sana.
"Itu buahnya udah mateng Yan!" tunjukku pada sebuah buah kersen yg sudah merah. Riyan melihat buah yang kutunjuk lalu berusaha mengambilkannya. Mas Danar dan Mas Nur sudah mendapat buah yang banyak. Riyan juga sudah lumayan. Mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi perburuan itu.
Mereka dengan santai turun dari pohon tanpa takut kepergok pemilik rumah. Aku dan Dina menunggu dengan riang gembira. Membayangkan setelah mereka melompati pagar runcing itu kami juga akan bisa mencicipi buah lezat itu.
Mas Danar menaiki pagar itu duluan disusul Mas Nur dan kemudian Riyan.
Kreeeek!! Tiba-tiba terdengar suara sobek di atas pagar. Kami melihat Riyan masih bertahan di atas pagar dengan muka pucat. Mas Danar langsung membantu Riyan turun sambil memegangi tangannya. Riyan tampak kesal sekaligus malu sambil menutupi pantatnya. Ia kemudian langsung lari meninggalkan kami yang terheran-heran.
Tapi tunggu dulu.., aku melihat sesuatu pada celana Riyan. Sebuah lubang besar menganga lebar di celana pendeknya di bagian belakang. Bwahahahaha… kami semua tertawa terbahak-bahak.
Rupanya celana Riyan tadi tersangkut di pagar runcing itu. Dia memakai celana pantai yang memang sangat longgar dan juga terbuat dari kain yang tipis. Pantas saja mudah sobek. Hahahaha

Jumat, 13 April 2012

[Cerpen] From Zero to Hero


Mimpi kami berdua. Aku teringat saat pelajaran sedang berlangsung. Kalau tidak salah pelajaran Bahasa Indonesia, karena selain gurunya menyenangkan juga memberikan kami banyak kelonggaran untuk bercengkrama dengan teman. Hehehe.
Aku sering mendengarnya bercita-cita sebagai dokter. Hanya sebagai dokter. Tak ingin berandai-andai menjadi orang lain. Berbeda denganku. Aku memiliki banyak impian yang bisa terombang-ambing karena orang lain. Keinginan terbesarku menjadi seorang penulis, tetapi aku sendiri tak mengimbanginya dengan banyak menulis. Impianku menjadi seorang akuntan, tetapi aku tak berlatih soal apapun mengenai akuntan. Impianku menjadi seorang menteri, tetapi aku malas mengikuti perkembangan politik yang carut marut.
Aku melihatnya mulai belajar dari sekarang. Dia sering memberikanku bacaan-bacaan mengenai kesehatan. Bahkan tak sungkan Ia menceritakan tentang buku yang baru saja Ia baca. Mulai dari buku pengobatan ala timur tengah, ala modern, tradisional, sampai buku yang menceritakan betapa kontroversialnya pengobatan modern. Aku lebih suka mendengarkannya bercerita dibanding membaca sendiri, karena aku terlalu banyak tak paham mengenai istilah-istilah yang ada.

Senin, 05 Desember 2011

[Cerpen] Ta'aruf Indah


           Seperti biasa setiap pagi aku berangkat ke sekolah. Menimba ilmu dari guru yang berbeda di setiap mapelnya. Sekolahku memberlakukan beberapa peraturan yang berbeda dari sekolah lain dan juga cukup unik karena di sekolahku yang dulu tidak ada peraturan itu. Misalnya siswa harus memakai sepatu hitam dari senin sampai jum’at sedang sabtu barulah siswa diberi kebebasan mengenakan sepatu warna apa saja. Juga sekolah yang memberlakukan peraturan penutupan gerbang, jadi begini, setiap pukul 7 pagi hingga 7.30 sekolah akan menutup gerbangnya dan tak membiarkan siapa pun masuk termasuk para guru apabila terlambat juga. Dan yang membuatku tersenyum mengulum adalah jaket yang harus dilepas sebelum memasuki gerbang karena setiap kami memasuki gerbang akan disambut oleh para tim STP2K selalu memeriksa seragam kami apakah sudah lengkap atribut dan segala macamnya.
            Dan seperti biasanya pula aku melepas jaketku diluar gerbang. Saat itu aku masih menggunakan sepeda onthelku yang baru saja dibelikan oleh ibu. Ketika berhenti di depan dan melepas jaket, aku melihat sebuah mobil di depanku. Pemandangan biasa orang tua yang mengantarkan anaknya berangkat sekolah. Tapi saat kulihat seorang siswa turun dari mobilnya dengan menenteng keyboard besar yang pastinya cukup berat, aku takjub. Wow! Dia pasti pandai bermusik sampai-sampai rela menenteng keyboardnya ke sekolah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...