Sabtu, 30 Maret 2013

[STORY] Lingkaran Cinta Perdana


Sebuah lingkaran cinta yang aku temukan di kampus yang baru saja aku masuki. Bertemu dengan teman-teman luar biasa tanpa di sengaja. Ketika memori flashback itu datang rupanya mampu mengulumkan senyum indah yang terasa berbeda.

Mb’ Er
Pertama kali melihatnya sedang khusyuk bercengkrama dengan Al Qur’an. Takut-takut aku mendekatinya untuk bertanya mengenai acara i’tikaf yang di selenggarakan oleh UKKI di Masjid Ulul Albab. Kesan pertama yang tertangkap olehku Mb’ Er terlihat judes, aku berpikir apa mungkin karena ke khusyukannya terganggu yaa? Buru-buru aku mendaftar untuk i’tikaf satu malam dan segera angkat kaki dari sana. Takut mengganggu.
Arum
Saking cueknya aku, tak kusadari ternyata aku sekelompok dengan Arum di Setaria. Kelompok ospek kami. Dari sekian banyak orang aku dikelompokkan dengannya. Aku sendiri baru menyadari kehadirannya ketika Ia berdiri di sampingku dengan wajah yang kepanasan. Kami berkenalan sejenak dan setelah itu terdiam. Yang kutangkap darinya dia tampak galak di mataku, tapi segera kutepis anggapan itu dan dengan segera pula aku melupakan perkenalan itu karena saking banyaknya yang kuajak berkenalan.
Saking parahnya ingatanku dalam mengingat nama dan wajah orang. Ternyata aku dan Arum satu kos. Hanya saja saat itu Arum datang agak terlambat karena dia dipindahkan dari kos lain. Dan yang memalukan sekali lagi aku bertanya nama dan ada di kelompok apa. Dengan santainya Arum menjawab Ia sekelompok denganku. Aku dibuatnya melongo.
Ela
Dia duduk disampingku tepat saat kami penutupan ospek. Ia mengenalkan dirinya dengan nama Ezul. Walaupun kami baru kenal saat itu tapi Ela dengan lugasnya bercerita tentang ketidaksetujuannya tentang acara ospek itu. Panjang lebar Ia bercerita hingga membuatku hanya bisa bengong, mengangguk, geleng-geleng. Kesan pertama yang kutangkap Ela itu cerewet. Hahaha
Ira
Dia ini kutu buku tulen. Segala ucapannya berdasarkan buku. Awalnya aku terkagum-kagum dengan daya ingat Ira tentang isi buku tersebut. Tapi satu hal mendasar yang aku tangkap dari Ira saat Ia berbicara tentang buku-bukunya, walaupun Ia bisa menghafal lafal dari buku tersebut tapi esensi yang ada dalam kata-kata itu belum bisa ditangkapnya. Dia hanya terpaku pada kontekstual, padahal semua kata itu pasti berkembang sesuai dengan realita yang ada. Kesan pertama aku sendiri bingung bagaimana bisa menjelaskan hal ini padanya. Hehe
Asma
Bisa di bilang Dia ini teman setiaku. Bagaimana tidak semenjak SD, SMP, SMA hingga kuliah kami selalu bersama. SD dan SMP sekelas, SMA satu gedung, kuliah satu fakultas dan satu organisasi hampir setiap hari kami bertemu. Kalau di runut dari SD kisahnya pasti akan panjang. Kami mungkin juga pernah bertengkar tapi entah kemana kenangan pahit itu yang teringat hanya kenangan-kenangan manis.
Ima
Aku ingat saat ospek yang terlintas dalam pandanganku adalah sosok Ima. Ia yang bertubuh subur dan berjilbab besar membuatku tertarik untuk mendekatinya. Tapi entah kenapa yang terjadi hanya aku melihatnya dan Ia tak terlalu memperhatikanku. Apa itu hanya perasaanku saja? Entahlah... walau begitu aku selalu senang melihat Ima. Apalagi saat tahu dia satu prodi denganku. Aku ingin mencoba lebih dekat lagi dengannya.
Lastri
Aku tak melihatnya sama sekali ketika awal ospek jurusan. Padahal aku sudah mengenal teman dekatnya Mentari tapi aku tak melihatnya sekalipun. Hingga akhirnya di ruang kelas saat kami dikumpulkan bersama dalam satu rombel. Aku mulai mengingatnya. Padahal Ia mengenalku dan menyapaku tapi aku sendiri malah lupa dia siapa sampai Mentari memperkenalkannya.

Moment awalan itu sungguh membuat kesan yang cukup menarik tapi belum terlalu terpatri hingga akhirnya kami dipertemukan dalam satu lingkaran cinta.
Aku terkejut bertemu Mb’ Er teringat saat pertama kali kami bertemu. Pepatah membuktikan bahwa berkenalan itu belum bisa dibilang kenal sampai kita tahu pribadinya. Setelah tahu sosok Mb’ Er yang sebenarnya aku makin jatuh cinta. Hahaha.
Bagaimana tidak? Selama ini aku sudah gonta-ganti MR dari jaman SMA. Belum pernah aku temukan yang seperhatian ini padaku. Kata Ibu bahkan Mb’ Er itu Ibu kedua karena yang mampu membujukku makan saat aku terbaring sakit. Aku juga bisa leluasa bercerita tentang masalah apapun. Selama ini aku memang suka memendam masalah sendirian hingga mungkin itu yang menyebabkan aku sering stres. Tapi setelah bertemu dengan Mb’ Er aku jadi punya tempat curhat.
Teman-teman seperjuanganku saling memperkenalkan diri masing-masing. Walaupun beberapa sudah saling mengenal di kos.
Belakangan aku semakin akrab dengan Arum karena kami satu organisasi dan juga satu jurusan sehingga sering bertemu. Saat berdiskusi dengan Arum, aku selalu menemukan hal-hal baru yang luar biasa. Selama ini aku cenderung lebih berpikiran melankolis walaupun sosokku tertutupi dengan sikap sanguinis. Arum mengajarkanku tentang logika dan realistis yang harus aku terima. Ucapannya yang menggebu-gebu dan sesuai dengan kondisiku teresap dengan baik dalam memori otakku. Terkagum aku melihat koleksi buku-bukunya yang aduhai beratnya. Aku memang suka membaca, tapi bukan bacaan non fiksi yang membuat kepala penat. Sedang Arum lebih suka membaca buku non fiksi dan mendiskusikannya dengan orang lain. Pantas saja dia begitu fasih dalam berdebat.
Aku bertemu lagi dengan Ela. Keterkejutanku nampak saat Ia duduk di depanku memperkenalkan diri.

Dalam benakku.. Waah... satu pemikiran ternyata. Haha. Karena tahu satu pemikiran dan satu visi misi aku jadi tidak sungkan berbicara dengan Ela. Saat bertemu pertama kali aku masih sungkan untuk berbicara karena aku belum mengenal Ela sesungguhnya. Sok-sok an curiga. Hihihi
Rupanya Ela itu satu kos dengan Ira. Pantas saja mereka sudah akrab sekali dan datang berdua ke MUA. Ira itu teman yang asyik untuk berdiskusi tentang buku. Dia suka dengan buku-buku yang berbau ‘love’ dan agak unik. Kami sering mendiskusikan bermacam-macam buku dan tentu saja aku kalah dalam hal mengingat frase-frase tulisan yang ada dalam buku. Ditambah dia yang seorang mahasiswi Bahasa Indonesia membuatku hanya bisa tersenyum simpul mendengarkannya berbicara.

Aaah... Lingkaran cinta yang luar biasa. Walau kami sudah terpisah-pisah sekarang tapi memori dan kenangan itu tak akan pernah terlupakan. Tetap berjuang kawan dimanapun kalian berada, dalam kondisi apapun, dan dalam kelelahan yang lillah. Insya Allah perjuangan kita semua tak akan pernah sia-sia dimata Allah. Salam cinta dariku, Shaffi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...