Sabtu, 30 Maret 2013

[STORY] Lingkaran Cinta Perdana


Sebuah lingkaran cinta yang aku temukan di kampus yang baru saja aku masuki. Bertemu dengan teman-teman luar biasa tanpa di sengaja. Ketika memori flashback itu datang rupanya mampu mengulumkan senyum indah yang terasa berbeda.

Mb’ Er
Pertama kali melihatnya sedang khusyuk bercengkrama dengan Al Qur’an. Takut-takut aku mendekatinya untuk bertanya mengenai acara i’tikaf yang di selenggarakan oleh UKKI di Masjid Ulul Albab. Kesan pertama yang tertangkap olehku Mb’ Er terlihat judes, aku berpikir apa mungkin karena ke khusyukannya terganggu yaa? Buru-buru aku mendaftar untuk i’tikaf satu malam dan segera angkat kaki dari sana. Takut mengganggu.
Arum
Saking cueknya aku, tak kusadari ternyata aku sekelompok dengan Arum di Setaria. Kelompok ospek kami. Dari sekian banyak orang aku dikelompokkan dengannya. Aku sendiri baru menyadari kehadirannya ketika Ia berdiri di sampingku dengan wajah yang kepanasan. Kami berkenalan sejenak dan setelah itu terdiam. Yang kutangkap darinya dia tampak galak di mataku, tapi segera kutepis anggapan itu dan dengan segera pula aku melupakan perkenalan itu karena saking banyaknya yang kuajak berkenalan.
Saking parahnya ingatanku dalam mengingat nama dan wajah orang. Ternyata aku dan Arum satu kos. Hanya saja saat itu Arum datang agak terlambat karena dia dipindahkan dari kos lain. Dan yang memalukan sekali lagi aku bertanya nama dan ada di kelompok apa. Dengan santainya Arum menjawab Ia sekelompok denganku. Aku dibuatnya melongo.
Ela
Dia duduk disampingku tepat saat kami penutupan ospek. Ia mengenalkan dirinya dengan nama Ezul. Walaupun kami baru kenal saat itu tapi Ela dengan lugasnya bercerita tentang ketidaksetujuannya tentang acara ospek itu. Panjang lebar Ia bercerita hingga membuatku hanya bisa bengong, mengangguk, geleng-geleng. Kesan pertama yang kutangkap Ela itu cerewet. Hahaha
Ira
Dia ini kutu buku tulen. Segala ucapannya berdasarkan buku. Awalnya aku terkagum-kagum dengan daya ingat Ira tentang isi buku tersebut. Tapi satu hal mendasar yang aku tangkap dari Ira saat Ia berbicara tentang buku-bukunya, walaupun Ia bisa menghafal lafal dari buku tersebut tapi esensi yang ada dalam kata-kata itu belum bisa ditangkapnya. Dia hanya terpaku pada kontekstual, padahal semua kata itu pasti berkembang sesuai dengan realita yang ada. Kesan pertama aku sendiri bingung bagaimana bisa menjelaskan hal ini padanya. Hehe
Asma
Bisa di bilang Dia ini teman setiaku. Bagaimana tidak semenjak SD, SMP, SMA hingga kuliah kami selalu bersama. SD dan SMP sekelas, SMA satu gedung, kuliah satu fakultas dan satu organisasi hampir setiap hari kami bertemu. Kalau di runut dari SD kisahnya pasti akan panjang. Kami mungkin juga pernah bertengkar tapi entah kemana kenangan pahit itu yang teringat hanya kenangan-kenangan manis.
Ima
Aku ingat saat ospek yang terlintas dalam pandanganku adalah sosok Ima. Ia yang bertubuh subur dan berjilbab besar membuatku tertarik untuk mendekatinya. Tapi entah kenapa yang terjadi hanya aku melihatnya dan Ia tak terlalu memperhatikanku. Apa itu hanya perasaanku saja? Entahlah... walau begitu aku selalu senang melihat Ima. Apalagi saat tahu dia satu prodi denganku. Aku ingin mencoba lebih dekat lagi dengannya.
Lastri
Aku tak melihatnya sama sekali ketika awal ospek jurusan. Padahal aku sudah mengenal teman dekatnya Mentari tapi aku tak melihatnya sekalipun. Hingga akhirnya di ruang kelas saat kami dikumpulkan bersama dalam satu rombel. Aku mulai mengingatnya. Padahal Ia mengenalku dan menyapaku tapi aku sendiri malah lupa dia siapa sampai Mentari memperkenalkannya.

Moment awalan itu sungguh membuat kesan yang cukup menarik tapi belum terlalu terpatri hingga akhirnya kami dipertemukan dalam satu lingkaran cinta.
Aku terkejut bertemu Mb’ Er teringat saat pertama kali kami bertemu. Pepatah membuktikan bahwa berkenalan itu belum bisa dibilang kenal sampai kita tahu pribadinya. Setelah tahu sosok Mb’ Er yang sebenarnya aku makin jatuh cinta. Hahaha.
Bagaimana tidak? Selama ini aku sudah gonta-ganti MR dari jaman SMA. Belum pernah aku temukan yang seperhatian ini padaku. Kata Ibu bahkan Mb’ Er itu Ibu kedua karena yang mampu membujukku makan saat aku terbaring sakit. Aku juga bisa leluasa bercerita tentang masalah apapun. Selama ini aku memang suka memendam masalah sendirian hingga mungkin itu yang menyebabkan aku sering stres. Tapi setelah bertemu dengan Mb’ Er aku jadi punya tempat curhat.
Teman-teman seperjuanganku saling memperkenalkan diri masing-masing. Walaupun beberapa sudah saling mengenal di kos.
Belakangan aku semakin akrab dengan Arum karena kami satu organisasi dan juga satu jurusan sehingga sering bertemu. Saat berdiskusi dengan Arum, aku selalu menemukan hal-hal baru yang luar biasa. Selama ini aku cenderung lebih berpikiran melankolis walaupun sosokku tertutupi dengan sikap sanguinis. Arum mengajarkanku tentang logika dan realistis yang harus aku terima. Ucapannya yang menggebu-gebu dan sesuai dengan kondisiku teresap dengan baik dalam memori otakku. Terkagum aku melihat koleksi buku-bukunya yang aduhai beratnya. Aku memang suka membaca, tapi bukan bacaan non fiksi yang membuat kepala penat. Sedang Arum lebih suka membaca buku non fiksi dan mendiskusikannya dengan orang lain. Pantas saja dia begitu fasih dalam berdebat.
Aku bertemu lagi dengan Ela. Keterkejutanku nampak saat Ia duduk di depanku memperkenalkan diri.

Dalam benakku.. Waah... satu pemikiran ternyata. Haha. Karena tahu satu pemikiran dan satu visi misi aku jadi tidak sungkan berbicara dengan Ela. Saat bertemu pertama kali aku masih sungkan untuk berbicara karena aku belum mengenal Ela sesungguhnya. Sok-sok an curiga. Hihihi
Rupanya Ela itu satu kos dengan Ira. Pantas saja mereka sudah akrab sekali dan datang berdua ke MUA. Ira itu teman yang asyik untuk berdiskusi tentang buku. Dia suka dengan buku-buku yang berbau ‘love’ dan agak unik. Kami sering mendiskusikan bermacam-macam buku dan tentu saja aku kalah dalam hal mengingat frase-frase tulisan yang ada dalam buku. Ditambah dia yang seorang mahasiswi Bahasa Indonesia membuatku hanya bisa tersenyum simpul mendengarkannya berbicara.

Aaah... Lingkaran cinta yang luar biasa. Walau kami sudah terpisah-pisah sekarang tapi memori dan kenangan itu tak akan pernah terlupakan. Tetap berjuang kawan dimanapun kalian berada, dalam kondisi apapun, dan dalam kelelahan yang lillah. Insya Allah perjuangan kita semua tak akan pernah sia-sia dimata Allah. Salam cinta dariku, Shaffi.

Jumat, 15 Februari 2013

Sayangnya Ortu


“Kamu beruntung loh.. Punya orang tua seperti Pak Rus dan Bu Ambar,” kata seseorang padaku yang merupakan teman dekat Ibuku. Ucapan itu terlontar begitu saja ketika aku baru saja pulang dari rumah sakit setelah menjalani perawatan akibat lupusku yang menyerang.
Aku hanya mengangguk diam tanda setuju lalu muncullah flashback kejadian satu tahun ini. Dahulu aku sering merasa bahwa orang tuaku tidak pernah sayang padaku. Seringkali aku merasa ingin pergi dari rumah meninggalkan semua kenangan yang selalu terasa pahit dalam benakku. Aku sering berburuk sangka pada orang-orang di sekitarku dan merasa aku yang paling benar.
Tapi kejadian satu tahun ini menuntunku pada suatu kesimpulan yang luar biasa. ORANG TUA KU SELALU SAYANG PADAKU SEPANJANG MASA.
Ibu rela tak tidur dan tak makan demi menemani aku yang selalu terbaring di tempat tidur. Setiap harinya Ibuku biasa ijin di tengah pekerjaan mengajarnya. Ia pulang ke rumah untuk mengecek keadaanku yang ditinggal sendiri di rumah. Apakah aku sudah makan, sudah minum obat, minumnya cukupkah, buah harus di makan, suplemen jangan lupa. Selalu saja Ia mengkhawatirkanku.
Abiku walaupun tidak secerewet Ibuku tapi Ia selalu memotivasi diriku agar bisa berjuang menghadapi lupus yang akhir-akhir ini mulai menggerogoti semangatku karena aku sering merasa penderitaan ini tak kunjung selesai. Abiku dengan setia menungguiku di rumah sakit dan selalu menyediakan semua kebutuhanku. Ketika aku ingin pergi jalan-jalan, abi berusaha meminjam mobil milik teman agar aku bisa ikut serta. Keluarga kami memang belum memiliki mobil tapi karena kebaikan teman-teman orang tuaku ketika kami butuh mobil untuk berobat selalu saja ada yang menawarkan untuk di pinjam.
Ketika aku merasa aku tak bisa melawan lupus yang bersarang di tubuhku. Ibu tak pernah lelah mengingatkanku untuk selalu mendekatkan diri pada Alloh SWT. Abi juga selalu memotivasiku dengan candaannya yang selalu membuatku tertawa.
Dibalik ujian ini selalu ada pertolongan Alloh yang menyertai. Aku beruntung memiliki kedua orang tua yang sayang padaku dan selalu setia menemaniku di masa-masa sulit ini. Semoga kebaikan selalu menyertai keluarga kami. Aamiin.

Rabu, 19 Desember 2012

[TravelStory] Pesona Dingin Dieng


Ini tepat satu tahun saat pada tanggal ini satu tahun yang lalu ooppie pergi ke Dieng. Untuk acara kampus dalam rangka mengenal budaya Dieng.
  
Aroma dingin sudah terpapar ketika memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng. Udara sejuk dan hamparan hijau tumbuhan memanjakan tubuh dalam pesona alam yang eksotis. Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan wisata yang menawarkan keindahan alamnya dan budaya unik para penduduknya. Terletak di Kabupaten Wonosobo, 145 km dari Kota Semarang. Saya dan rombongan memang sengaja berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng untuk mempelajari budaya penduduk setempat.
Terpaan angin disertai hujan rintik menyambut kedatangan kami. Cuaca memang sedang mendung saat kami menginjakkan kaki di Dieng Plateau Teater.
Dieng Plateau Teater merupakan sarana pendukung dalam mengenalkan wilayah Dataran Tinggi Dieng melalui sebuah film. Hal itu sebagai sarana pendidikan, kebudayaan, pengenalan potensi wisata serta hiburan. Ruangan tersebut memiliki kapasitas 100 kursi dengan durasi film sekitar 20 menit.
Bersyukur Saya mendapat giliran pertama memasuki Dieng Plateau Teater. Dalam film tersebut berisi tentang informasi mengenai kawah-kawah yang ada di sekitar Dieng. Juga beberapa danau vulkanik yang terbentuk akibat aktifitas gunung merapi yang masih bisa dirasakan walau sedang tidur. Liputan mengenai budaya ruwatan rambut gimbal juga tersaji dalam film tersebut.
Selesai melihat film, Saya dan rekan-rekan berjalan di sekitar sambil menikmati pemandangan yang luar biasa menakjubkan.
Kami melihat pedagang kaki lima yang ada di dekat Dieng Plateau Teater. Sebagian besar menjajakan kentang goreng. Makanan kesukaan saya ternyata menjadi camilan khas wilayah ini.
Di belakang lapak pedagang tersebut, Saya melihat sebuah tangga. Saya penasaran kemana tangga itu akan berujung. Bersama dengan teman-teman, kami menuruni tangga-tangga yang masih nampak alami itu.
Lebatnya pepohonan mengaburkan pandangan kami. Tapi setelah kami semakin turun, ternyata kami dibuat takjub dengan pemandangan Danau Tiga Warna yang menjadi icon Dataran Tinggi Dieng.
Danau Tiga Warna merupakan Danau Vulkanik yang memiliki kandungan belerang. Saat mentari menerpa permukaannya, maka akan terpancar sinar warna-warni akibat dari kandungan mineralnya. Terkadang hijau, biru ataupun kuning.
Kami melihat danau dari ketinggian, sehingga nampak jelas dan indah. Walau begitu kami masih penasaran untuk tetap mendekati danau itu. Saat sampai di tepian danau, ada sebuah ranting pohon yang menjorok ke danau. Menambah keeksotikan Danau Tiga Warna.
Penduduk setempat memiliki kepercayaan atau mitos bahwa dahulu ada cincin milik bangsawan yang bertuah terjatuh ke dalam danau tersebut dan mengeluarkan warna-warni yang tampak seperti sekarang.
Fasilitas di tempat tersebut cukup lengkap. Layaknya wahana wisata yang bisa dikunjungi setiap orang. Ada cukup kamar mandi bersih dengan airnya yang dingin. Di sekitarnya ada pendopo-pendopo untuk peristirahatan, juga tempat sampah di sekeliling untuk menjaga kebersihan kawasan wisata Danau Tiga Warna.
Ranting-ranting yang menjorok di tepian danau menambah nuansa keindahan Danau Tiga Warna. Lelah dan penat selama perjalanan terbayar sudah dengan panorama yang ada di Danau Tiga Warna.



Kamis, 18 Oktober 2012

'Menjadi Hidup' berkat listrik



Apa yang kamu rasakan jika listrik mati? Pertanyaan itu aku utarakan kepada beberapa temanku yang kebanyakan adalah mahasiswa.
Jawabannya pun bermacam-macam.
“Panas.. Kipas angin+AC juga nggak nyala. Tapi enak juga kalo pas hari Selasa, nggak perlu listening karena alatnya pada mati, hehehe.” Itu kata kawanku yang mengambil studi Bahasa Jepang.
“Biasa aja sih tapi gelap juga dan mati lampu itu buat laper -_-.“ Temanku yang belajar di Bahasa Arab mengatakan begitu.
Bagiku sendiri listrik sudah menjadi bagian dari hidupku yang tidak aku rasakan. Jika ada biasa saja jika tak ada biasanya mengumpat-ngumpat karena segala barang elektronik tak berfungsi tanpa listrik.
Sejak kecil aku sudah dimanja oleh listrik berbeda sekali dengan kehidupan orang tuaku yang saat itu belum ada listrik. Jaman belum ada listrik itu saat malam, gelap tentu saja, saat keluar harus membawa sentir atau yang murah blarak – daun kelapa yang sudah dikeringkan -- sebagai penerangan. Malam akan ramai ketika padang bulan atau bulan purnama karena pada moment itu suasana terang benderang dan tentu saja asyik jika untuk bermain. Itu kisah jaman ketika orang tuaku kecil yang belum ada program listrik masuk desa.
Sekarang kebutuhan listrik semakin meningkat. Konsumsi listrik pun juga tidak hanya dilakukan oleh pebisnis skala besar, skala kecil pun juga membutuhkan listrik seperti bisnis foto copy, bisnis perbengkelan, bisnis percetakan, dan masih banyak lagi. Karena banyak permintaan listrik maka beberapa tahun belakangan ini sering terjadi pemadaman secara berkala.
Paling kesal ketika hal itu terjadi, otomatis semua lini dalam hidupku yang membutuhkan listrik jadi terganggu dan tidak bisa melakukan apa-apa. Televisi mati, kulkas mati, tak bisa menyetrika, tak bisa mencuci, tak bisa mandi karena tak ada air, handphone yang lowbat juga tak bisa diisi. Wah.. sepertinya memang benar-benar mati gaya.
Kalau sudah begini biasanya yang aku salahkan PLN. Kenapa tega banget sih pake acara pemadaman segala?! Aku jadi nggak bisa apa-apa kaan..!! Tentu saja protes itu hanya sekedar umpatan dalam hati tak akan pernah sanggup aku mengutarakannya pada PLN karena pemadaman ini merupakan kebijakan yang PLN ambil untuk penghematan listrik agar semuanya bisa kebagian.
Sering terlintas dalam pikiranku. Mengapa PLN tidak segera mengganti pembangkit listrik migas dengan pembangkit listrik yang lain yang lebih bisa diperbaharui? Pertanyaan itu sudah juga dijawab dengan adanya berbagai penelitian PLN mengenai bahan pembangkit listrik alternatif lain. Seperti yang aku tahu adanya penelitian  Namun yang aku tahu masih belum ada realisasi yang benar-benar positif untuk dikerjakan. Semuanya masih sekedar penelitian, penemuan, tetapi belum diproduksi skala besar. Padahal jika itu bisa terlaksana maka berapa banyak bahan migas yang bisa dihemat, bahan migas memang bukan bahan yang bisa diperbaharui. Alangkah baiknya jika sebagian besar bahan pembangkit migas bisa digantikan oleh bahan lain yang bisa diperbaharui.
Ah ya! Ketika pemadaman terjadi ada satu hal positif yang sekarang ini jarang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia yang mulai antipati. Saat mati lampu rasanya masyarakat Indonesia seperti kembali ke jaman dahulu dengan tanpa penerangan, sehingga banyak orang yang memilih untuk keluar rumah sekedar saling menyapa antar tetangga dan bercengkrama di luar sambil menunggu listrik yang menyala. Anak-anak masih bisa berkejaran dan bermain menggunakan senter dan saling tembak menembak antar satu sama lain, ibu-ibu ngerumpi entah apa yang di bicarakan, bapak-bapak juga berkumpul. So sweet...
Seperti halnya di kosku kemarin, ketika mati lampu kami semua berkumpul. Kebetulan ada mangga di sana, dalam keremangan cahaya lilin kami berebutan mangga. Hahaha. Dan ketika listrik kembali menyala semuanya berteriak, Alhamdulillah....
Foto kedua kawan yang sedang main di kos saat mati lampu. Aku yang jadi fotografernya berasa jadi cover buku itu. Hihihi  
Kalau yang ini saat suasana berkumpul di kos ketika mati lampu setelah makan mangga, semuanya berantakan :D
Dalam hal ini aku merasakan betapa berharga listrik itu dan juga berjasa para pekerja PLN itu. Tanpa listrik Indonesia mungkin akan berubah menjadi tempo doeloe dimana listrik belum tenar seperti sekarang.
Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkitan tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan listrik yang dikuasai Jepang direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945, lalu diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas oleh Presiden Soekarno. Waktu itu kapasitas pembangkit tenaga listrik hanyalah sebesar 157,5 MW. http://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan_Listrik_Negara
Luar biasa bukan perkembangan listrik hingga menjadi sekarang. Listrik kini sudah menyebar ke berbagai pelosok negeri juga membantu perekonomian bangsa Indonesia. Seperti yang sudah aku sebutkan di atas bahwa para bisnisman atau bisnisgirl pun juga membutuhkan listrik dalam mengelola industrinya.
Orang tuaku sendiri di rumah juga memiliki bisnis home industry pembuatan ice cream. Ketika membuat ice cream pun listrik sangat dibutuhkan untuk menjalankan mesinnya. Saat penyimpanan ice cream listrik juga dibutuhkan untuk menyalakan frezeer sehingga ice cream bisa tetap dalam kondisi beku. Saat terjadi pemadaman di rumah, kerugian yang dirasakan terasa sekali, karena ice cream yang seharusnya mengembang malah jadi bantat seperti halnya membuat roti yang gagal. Juga ice cream yang sebenarnya sudah membeku jadi mencair lalu memiliki cita rasa yang berbeda.
Ada satu status menarik yang aku temukan dalam status seorang teman di jejaring sosial, begini katanya.
Kurasakan kegelapan menyelimutiku di sepanjang jalan menuju istanaku. Entah apa gerangan yang terjadi. Apakah ini nyata, atau sekadar perasaan yang tak tentu, mencoba kulihat sekelilingku...dan kutemukan sebuah jawaban...”MATI LAMPU” PLN mana PLN.. Gelap tau gak jalannya..
Begitulah yang terjadi jika hidup tanpa listrik. Itu contoh kecil dari sekian ratusan bahkan ribuan contoh yang ada tentang listrik.
Sistem pembayaran PLN sekarang juga semakin maju, kalau dulu pelanggan harus membayar ke KUD yang letaknya cukup jauh dari rumah dan sesuai dengan jam kerja KUD sekarang pembayaran listrik bisa dilakukan lewat online atau melalui gerai rumahan yang membuka jasa layanan pembayaran listrik. Bahkan tetangga depan rumahku memiliki gerai tersebut jadi sangatlah mudah untuk membayar listrik. Apalagi sekarang listrik pun juga bisa dibayar melalui handphone yang banyak dimiliki oleh semua kalangan. Tentu saja itu menambah kemudahan dalam pembayaran rekening tagihan.
PLN memberikan jasa listrik kepada masyarakat terutama di Indonesia. Satu hal lagi yang menjadi harapanku, semoga para petugas PLN adalah petugas yang amanah sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik dalam penyaluran listrik di Indonesia.
Indonesia nampak hidup dan bercahaya dengan adanya listrik. Untuk itu jangan kotori penggunaan listrik dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan Indonesia sendiri. Caiyoo dunia listrik Indonesia!! Terus tingkatkan kualitas dan perbaikan sarana prasarana dalam memberikan pelayanan pada para pelanggan.

Jumat, 05 Oktober 2012

[STORY] Tentangmu, tentang kita, tentangnya


Ini bukan tentangnya tentangmu atau tentangku tapi ini tentang semuanya. Tentang kita yang akan terus bahagia meski purna usia dan waktu. Kita tetap akan menjadi kita meski jarak memisahkan kita. Semua berharap kita akan bertemu di dunia dan di akhirat kita nanti.

Ijinkan aku mencintai kalian karena Allah Ta’ala

Kisah ini tak akan terjadi tanpa adanya moment spesial dari seorang kawan dekat yang usianya menginjak akhir kepala satu. Namanya Yang Bersabuk Dua, sebut saja Asma’.

Aku hanya tertidur lesu di atas kasurku yang mengeras karena usia. Benakku berputar-putar apa yang nantinya akan aku lakukan untuk esok hari. Hanya muncul ide sederhana yang aku sendiri tak merasa itu sebuah kejutan. Biarlah hanya ini yang bisa aku lakukan dan mungkin tak terlalu mengejutkan karena aku sendiri memang tak berniat memberi kejutan.
Kamis, 27 September 2012
Selesai kuliah Bimbingan Konseling dan diakhiri dengan presentasi yang sukses, aku memacu motorku menuju kos Asma’, bukan Asma’ yang ingin aku temui tapi Arum yang katanya ingin ke kosku. Namun ternyata tak ada orang yang kucari ternyata Ia sudah pewe di kosku.
Aku segera menuju kos, namun insiden terjadi, kakiku yang mati rasa tiba-tiba tersangkut b atu dan aku tak sadar akan hal itu, ketika sadar kakiku tertinggal karena aku sudah melaju dan kondisinya sudah menekuk ke belakang. Karena tak merasakan sakit apa-apa aku melajukan motorku seperti biasa.
Sampai di kos, aku melihat Arum sedang asyik di bekam oleh Mb Citra, kuceritakan sejenak rencanaku, setelah selesai aku tak ingin mengganggu kegiatan bekam itu lalu beranjak ke kamar mengistirahatkan raga.
Ba’da dhuhur aku dan Arum meluncur ke toko roti Virgin, bukan untuk membeli cake, tapi membeli roti untuk kami sendiri. Sudah kubilang ini bukan kejutan. Aku tukar motor dengan Mb Citra –Vario warna merah -- karena motorku akan perpanjangan STNK. Siang-siang biasanya ada polisi yang mencari tambahan untuk tanggal tua. Makanya aku tukar motor yang ada STNK-nya.
Dugaanku ternyata benar, ada polisi yang sudah nangkring di depan menghentikan laju kendaraan kami. Aku memang gemetar karena yang kubawa bukan motorku, dan yang aku takutkan lampu depan tidak aku nyalakan, saat kulihat on-off pada lampu, ternyata lampu sudah menyala. Saat itu aku santai sambil berlagak mencari surat-surat.
Awalnya polisi itu nampak senang, tetapi ketika aku perlahan-lahan memunculkan SIM dan STNK satu persatu, wajah polisi itu berubah masam. Hahaha.. bapaknya gonduk.
Kami melaju meninggalkan wajah sang bapak polisi yang kecolongan karena salah menghentikan kami. Alhamdulillah
Virgin terletak di jalan protokol tempat bus dan truk antar kota maupun provinsi melewati jalan tersebut. Aku melajukan motor diantara truk-truk pelabuhan, debu beterbangan tak tentu arah, sambil mencari-cari di mana letak virgin sebenarnya.
Sampai di virgin, aku langsung memilih roti-roti kesenanganku dan Arum :D
Kulihat ada cupcake kecil di bagian cake yang besar, dengan taburan coklat yang menawan dan menggoda. Aku membelinya satu.
Selesai berbelanja kami pulang ke kampus, kosku lebih dekat dari jalan utama, karena itu kami mengistirahatkan diri di sana.
Hari kamis adalah hari kami harus mengikuti agenda kajian keislaman. Kami bingung bagaimana caranya nanti membawa satu kotak roti ini yang sebenarnya memang akan kami makan sendiri :D. Tetapi tiba-tiba dapat short message bahwa hari ini ditunda dulu kajiannya, karena akan ada ujian dan kami baru satu kali mengikutinya.
Langsung setelah mendapat sms itu kami meluncur ke taman rektorat Unnes untuk sekedar duduk menikmati pemandangan sore yang sebagian besar di dominasi dengan tanah pecah dan kering kerontang. Musim kering memang membuat dampak besar bagi keberlangsungan makhluk hidup di wilayah kampus.
Aku meng-sms Asma untuk segera datang ke taman rektorat dengan alasan buku yang ingin Ia pinjam sudah aku bawa. Awalnya Asma males-malesan mungkin dia mengira kami akan memberi kejutan padahal enggak. Tapi setelah aku bilang kalau tak mau ya sudah aku mau pulang, dia akhirnya menemui kami.
Dengan malu-malu dan merasa akan dikerjain dia mencoba menolak mendekati kami. Aku hanya cuek saja sambil memakan roti pizza yang sudah aku beli, duduk di kursi taman. Selain itu alasan terbesar karena kakiku mulai bengkak akibat tadi tersandung batu.
Ah ya, ada rahasia kecil di sini, cupcake yang aku beli sebenarnya itu untuk Asma tapi karena Asma tiba-tiba datang di belakang kami aku dan Arum terkejut, tak sempat untuk menyembunyikan cupcake itu.
Tapi sebelum Asma mendekat Arum mengajaknya untuk memindahkan motor Vario yang tadi kami pakai karena tak terlihat dari tempat nongkrong kami. Aku tak ikut karena asyik makan roti :D. Cukup lama mereka memindahkan motor, kulihat mereka kembali tanpa membawa motor, aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Kekhawatiranku itu terhapus karena kulihat Asma dan Arum sudah membawa motor.
“Tahu nggak Ppie, tadi kita salah motor!” cerita Arum.
“Hah?” tanyaku terkejut sekaligus heran.
“Tadi kata Arum motor vario merah, tapi motor vario merah ada banyak. Dia bingung motornya yang mana, waktu kita coba kunci motornya nggak masuk-masuk,” kata Asma.
“Trus?”
“Ya kita salah motor,” sahut Arum.
“Jelas-jelas Mb Citra bukan orang Semarang, padahal nomor polisinya itu H!” geruta Asma.
“Huwahahahahaha!!”
Ada banyak orang di sana. Dan mungkin semuanya melihat mereka berdua layaknya maling kecil yang mencolok dan tak berpengalaman. Hehehe. Kami bertiga duduk-duduk di atas bangku taman sambil berbagi roti. Tepat saat itu ada dua orang mas-mas melajukan motor vario yang tadi mereka kira motor Mb Citra. Kami bertiga terbahak-bahak lagi.
Kami saling memilih roti mana yang kami suka, Asma dapat bagian roti durian dan roti pizza.
“Yaah.. kok nggak ada coklat, aku pengen coklat ini,” kata Asma protes.
“Kan kau suka durian, jadi ya aku kasih durian ini. Hahaha,” kataku.
“Tapi kan aku sukanya durian beneran...”
Kami makan roti bersama-sama. Tiba-tiba tanganku masuk ke dalam tas dan aku mengeluarkan cupcake coklat bertabur coklat.
“Niih!! Katanya pengen coklat,” untung tadi aku sempat menyembunyikan cupcakenya sebelum Asma kemari.
coba tebak ituu alasnya taplak punya siapa?? :D
Entahlah bagaimana ekspresi Asma mungkin tak terkejut dan terkejut. Silahkan bertanya sendiri padanya bagi yang mengenalnya.
Setelah itu, ini bagian yang kusuka.
TRAKTIR MAKAAAAAN!!!!
Hahaha
Aku dan Arum jungkir balik membujuk Asma agar mau mentraktir kami berdua. Walau bokek tetap saja kami ingin ditraktir. Akhirnya Asma menyetujui.
Lalu aku mendelegasikan Ela untuk diajak. Akhirnya aku menelpon Ela dan bilang
“Assalamu’alaikum.. La kamu dimana? Di kos? Kalau gitu dalam 1 menit kita jemput kamu, Asma mau ngajakin makan. Buruan siap-siap ini mau langsung meluncur!” aku langsung menutup telpon sambil tertawa-tawa. Entah bagaimana reaksi heboh Ela.
Kami lalu segera pergi menuju kos Ela dan di sana menunggu beberapa lama karena dia belum siap.
Akhirnya kami makaaaaann.....
Beginilah fotonya :D





cieee yg ultah, dapet minuman gratis boo..












omoo!!! ela ngabisin buanyak bangeet




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...