Pages

Rabu, 19 Desember 2012

[TravelStory] Pesona Dingin Dieng


Ini tepat satu tahun saat pada tanggal ini satu tahun yang lalu ooppie pergi ke Dieng. Untuk acara kampus dalam rangka mengenal budaya Dieng.
  
Aroma dingin sudah terpapar ketika memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng. Udara sejuk dan hamparan hijau tumbuhan memanjakan tubuh dalam pesona alam yang eksotis. Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan wisata yang menawarkan keindahan alamnya dan budaya unik para penduduknya. Terletak di Kabupaten Wonosobo, 145 km dari Kota Semarang. Saya dan rombongan memang sengaja berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng untuk mempelajari budaya penduduk setempat.
Terpaan angin disertai hujan rintik menyambut kedatangan kami. Cuaca memang sedang mendung saat kami menginjakkan kaki di Dieng Plateau Teater.
Dieng Plateau Teater merupakan sarana pendukung dalam mengenalkan wilayah Dataran Tinggi Dieng melalui sebuah film. Hal itu sebagai sarana pendidikan, kebudayaan, pengenalan potensi wisata serta hiburan. Ruangan tersebut memiliki kapasitas 100 kursi dengan durasi film sekitar 20 menit.
Bersyukur Saya mendapat giliran pertama memasuki Dieng Plateau Teater. Dalam film tersebut berisi tentang informasi mengenai kawah-kawah yang ada di sekitar Dieng. Juga beberapa danau vulkanik yang terbentuk akibat aktifitas gunung merapi yang masih bisa dirasakan walau sedang tidur. Liputan mengenai budaya ruwatan rambut gimbal juga tersaji dalam film tersebut.
Selesai melihat film, Saya dan rekan-rekan berjalan di sekitar sambil menikmati pemandangan yang luar biasa menakjubkan.
Kami melihat pedagang kaki lima yang ada di dekat Dieng Plateau Teater. Sebagian besar menjajakan kentang goreng. Makanan kesukaan saya ternyata menjadi camilan khas wilayah ini.
Di belakang lapak pedagang tersebut, Saya melihat sebuah tangga. Saya penasaran kemana tangga itu akan berujung. Bersama dengan teman-teman, kami menuruni tangga-tangga yang masih nampak alami itu.
Lebatnya pepohonan mengaburkan pandangan kami. Tapi setelah kami semakin turun, ternyata kami dibuat takjub dengan pemandangan Danau Tiga Warna yang menjadi icon Dataran Tinggi Dieng.
Danau Tiga Warna merupakan Danau Vulkanik yang memiliki kandungan belerang. Saat mentari menerpa permukaannya, maka akan terpancar sinar warna-warni akibat dari kandungan mineralnya. Terkadang hijau, biru ataupun kuning.
Kami melihat danau dari ketinggian, sehingga nampak jelas dan indah. Walau begitu kami masih penasaran untuk tetap mendekati danau itu. Saat sampai di tepian danau, ada sebuah ranting pohon yang menjorok ke danau. Menambah keeksotikan Danau Tiga Warna.
Penduduk setempat memiliki kepercayaan atau mitos bahwa dahulu ada cincin milik bangsawan yang bertuah terjatuh ke dalam danau tersebut dan mengeluarkan warna-warni yang tampak seperti sekarang.
Fasilitas di tempat tersebut cukup lengkap. Layaknya wahana wisata yang bisa dikunjungi setiap orang. Ada cukup kamar mandi bersih dengan airnya yang dingin. Di sekitarnya ada pendopo-pendopo untuk peristirahatan, juga tempat sampah di sekeliling untuk menjaga kebersihan kawasan wisata Danau Tiga Warna.
Ranting-ranting yang menjorok di tepian danau menambah nuansa keindahan Danau Tiga Warna. Lelah dan penat selama perjalanan terbayar sudah dengan panorama yang ada di Danau Tiga Warna.



Kamis, 18 Oktober 2012

'Menjadi Hidup' berkat listrik



Apa yang kamu rasakan jika listrik mati? Pertanyaan itu aku utarakan kepada beberapa temanku yang kebanyakan adalah mahasiswa.
Jawabannya pun bermacam-macam.
“Panas.. Kipas angin+AC juga nggak nyala. Tapi enak juga kalo pas hari Selasa, nggak perlu listening karena alatnya pada mati, hehehe.” Itu kata kawanku yang mengambil studi Bahasa Jepang.
“Biasa aja sih tapi gelap juga dan mati lampu itu buat laper -_-.“ Temanku yang belajar di Bahasa Arab mengatakan begitu.
Bagiku sendiri listrik sudah menjadi bagian dari hidupku yang tidak aku rasakan. Jika ada biasa saja jika tak ada biasanya mengumpat-ngumpat karena segala barang elektronik tak berfungsi tanpa listrik.
Sejak kecil aku sudah dimanja oleh listrik berbeda sekali dengan kehidupan orang tuaku yang saat itu belum ada listrik. Jaman belum ada listrik itu saat malam, gelap tentu saja, saat keluar harus membawa sentir atau yang murah blarak – daun kelapa yang sudah dikeringkan -- sebagai penerangan. Malam akan ramai ketika padang bulan atau bulan purnama karena pada moment itu suasana terang benderang dan tentu saja asyik jika untuk bermain. Itu kisah jaman ketika orang tuaku kecil yang belum ada program listrik masuk desa.
Sekarang kebutuhan listrik semakin meningkat. Konsumsi listrik pun juga tidak hanya dilakukan oleh pebisnis skala besar, skala kecil pun juga membutuhkan listrik seperti bisnis foto copy, bisnis perbengkelan, bisnis percetakan, dan masih banyak lagi. Karena banyak permintaan listrik maka beberapa tahun belakangan ini sering terjadi pemadaman secara berkala.
Paling kesal ketika hal itu terjadi, otomatis semua lini dalam hidupku yang membutuhkan listrik jadi terganggu dan tidak bisa melakukan apa-apa. Televisi mati, kulkas mati, tak bisa menyetrika, tak bisa mencuci, tak bisa mandi karena tak ada air, handphone yang lowbat juga tak bisa diisi. Wah.. sepertinya memang benar-benar mati gaya.
Kalau sudah begini biasanya yang aku salahkan PLN. Kenapa tega banget sih pake acara pemadaman segala?! Aku jadi nggak bisa apa-apa kaan..!! Tentu saja protes itu hanya sekedar umpatan dalam hati tak akan pernah sanggup aku mengutarakannya pada PLN karena pemadaman ini merupakan kebijakan yang PLN ambil untuk penghematan listrik agar semuanya bisa kebagian.
Sering terlintas dalam pikiranku. Mengapa PLN tidak segera mengganti pembangkit listrik migas dengan pembangkit listrik yang lain yang lebih bisa diperbaharui? Pertanyaan itu sudah juga dijawab dengan adanya berbagai penelitian PLN mengenai bahan pembangkit listrik alternatif lain. Seperti yang aku tahu adanya penelitian  Namun yang aku tahu masih belum ada realisasi yang benar-benar positif untuk dikerjakan. Semuanya masih sekedar penelitian, penemuan, tetapi belum diproduksi skala besar. Padahal jika itu bisa terlaksana maka berapa banyak bahan migas yang bisa dihemat, bahan migas memang bukan bahan yang bisa diperbaharui. Alangkah baiknya jika sebagian besar bahan pembangkit migas bisa digantikan oleh bahan lain yang bisa diperbaharui.
Ah ya! Ketika pemadaman terjadi ada satu hal positif yang sekarang ini jarang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia yang mulai antipati. Saat mati lampu rasanya masyarakat Indonesia seperti kembali ke jaman dahulu dengan tanpa penerangan, sehingga banyak orang yang memilih untuk keluar rumah sekedar saling menyapa antar tetangga dan bercengkrama di luar sambil menunggu listrik yang menyala. Anak-anak masih bisa berkejaran dan bermain menggunakan senter dan saling tembak menembak antar satu sama lain, ibu-ibu ngerumpi entah apa yang di bicarakan, bapak-bapak juga berkumpul. So sweet...
Seperti halnya di kosku kemarin, ketika mati lampu kami semua berkumpul. Kebetulan ada mangga di sana, dalam keremangan cahaya lilin kami berebutan mangga. Hahaha. Dan ketika listrik kembali menyala semuanya berteriak, Alhamdulillah....
Foto kedua kawan yang sedang main di kos saat mati lampu. Aku yang jadi fotografernya berasa jadi cover buku itu. Hihihi  
Kalau yang ini saat suasana berkumpul di kos ketika mati lampu setelah makan mangga, semuanya berantakan :D
Dalam hal ini aku merasakan betapa berharga listrik itu dan juga berjasa para pekerja PLN itu. Tanpa listrik Indonesia mungkin akan berubah menjadi tempo doeloe dimana listrik belum tenar seperti sekarang.
Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkitan tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan listrik yang dikuasai Jepang direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945, lalu diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas oleh Presiden Soekarno. Waktu itu kapasitas pembangkit tenaga listrik hanyalah sebesar 157,5 MW. http://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan_Listrik_Negara
Luar biasa bukan perkembangan listrik hingga menjadi sekarang. Listrik kini sudah menyebar ke berbagai pelosok negeri juga membantu perekonomian bangsa Indonesia. Seperti yang sudah aku sebutkan di atas bahwa para bisnisman atau bisnisgirl pun juga membutuhkan listrik dalam mengelola industrinya.
Orang tuaku sendiri di rumah juga memiliki bisnis home industry pembuatan ice cream. Ketika membuat ice cream pun listrik sangat dibutuhkan untuk menjalankan mesinnya. Saat penyimpanan ice cream listrik juga dibutuhkan untuk menyalakan frezeer sehingga ice cream bisa tetap dalam kondisi beku. Saat terjadi pemadaman di rumah, kerugian yang dirasakan terasa sekali, karena ice cream yang seharusnya mengembang malah jadi bantat seperti halnya membuat roti yang gagal. Juga ice cream yang sebenarnya sudah membeku jadi mencair lalu memiliki cita rasa yang berbeda.
Ada satu status menarik yang aku temukan dalam status seorang teman di jejaring sosial, begini katanya.
Kurasakan kegelapan menyelimutiku di sepanjang jalan menuju istanaku. Entah apa gerangan yang terjadi. Apakah ini nyata, atau sekadar perasaan yang tak tentu, mencoba kulihat sekelilingku...dan kutemukan sebuah jawaban...”MATI LAMPU” PLN mana PLN.. Gelap tau gak jalannya..
Begitulah yang terjadi jika hidup tanpa listrik. Itu contoh kecil dari sekian ratusan bahkan ribuan contoh yang ada tentang listrik.
Sistem pembayaran PLN sekarang juga semakin maju, kalau dulu pelanggan harus membayar ke KUD yang letaknya cukup jauh dari rumah dan sesuai dengan jam kerja KUD sekarang pembayaran listrik bisa dilakukan lewat online atau melalui gerai rumahan yang membuka jasa layanan pembayaran listrik. Bahkan tetangga depan rumahku memiliki gerai tersebut jadi sangatlah mudah untuk membayar listrik. Apalagi sekarang listrik pun juga bisa dibayar melalui handphone yang banyak dimiliki oleh semua kalangan. Tentu saja itu menambah kemudahan dalam pembayaran rekening tagihan.
PLN memberikan jasa listrik kepada masyarakat terutama di Indonesia. Satu hal lagi yang menjadi harapanku, semoga para petugas PLN adalah petugas yang amanah sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik dalam penyaluran listrik di Indonesia.
Indonesia nampak hidup dan bercahaya dengan adanya listrik. Untuk itu jangan kotori penggunaan listrik dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan Indonesia sendiri. Caiyoo dunia listrik Indonesia!! Terus tingkatkan kualitas dan perbaikan sarana prasarana dalam memberikan pelayanan pada para pelanggan.

Jumat, 05 Oktober 2012

[STORY] Tentangmu, tentang kita, tentangnya


Ini bukan tentangnya tentangmu atau tentangku tapi ini tentang semuanya. Tentang kita yang akan terus bahagia meski purna usia dan waktu. Kita tetap akan menjadi kita meski jarak memisahkan kita. Semua berharap kita akan bertemu di dunia dan di akhirat kita nanti.

Ijinkan aku mencintai kalian karena Allah Ta’ala

Kisah ini tak akan terjadi tanpa adanya moment spesial dari seorang kawan dekat yang usianya menginjak akhir kepala satu. Namanya Yang Bersabuk Dua, sebut saja Asma’.

Aku hanya tertidur lesu di atas kasurku yang mengeras karena usia. Benakku berputar-putar apa yang nantinya akan aku lakukan untuk esok hari. Hanya muncul ide sederhana yang aku sendiri tak merasa itu sebuah kejutan. Biarlah hanya ini yang bisa aku lakukan dan mungkin tak terlalu mengejutkan karena aku sendiri memang tak berniat memberi kejutan.
Kamis, 27 September 2012
Selesai kuliah Bimbingan Konseling dan diakhiri dengan presentasi yang sukses, aku memacu motorku menuju kos Asma’, bukan Asma’ yang ingin aku temui tapi Arum yang katanya ingin ke kosku. Namun ternyata tak ada orang yang kucari ternyata Ia sudah pewe di kosku.
Aku segera menuju kos, namun insiden terjadi, kakiku yang mati rasa tiba-tiba tersangkut b atu dan aku tak sadar akan hal itu, ketika sadar kakiku tertinggal karena aku sudah melaju dan kondisinya sudah menekuk ke belakang. Karena tak merasakan sakit apa-apa aku melajukan motorku seperti biasa.
Sampai di kos, aku melihat Arum sedang asyik di bekam oleh Mb Citra, kuceritakan sejenak rencanaku, setelah selesai aku tak ingin mengganggu kegiatan bekam itu lalu beranjak ke kamar mengistirahatkan raga.
Ba’da dhuhur aku dan Arum meluncur ke toko roti Virgin, bukan untuk membeli cake, tapi membeli roti untuk kami sendiri. Sudah kubilang ini bukan kejutan. Aku tukar motor dengan Mb Citra –Vario warna merah -- karena motorku akan perpanjangan STNK. Siang-siang biasanya ada polisi yang mencari tambahan untuk tanggal tua. Makanya aku tukar motor yang ada STNK-nya.
Dugaanku ternyata benar, ada polisi yang sudah nangkring di depan menghentikan laju kendaraan kami. Aku memang gemetar karena yang kubawa bukan motorku, dan yang aku takutkan lampu depan tidak aku nyalakan, saat kulihat on-off pada lampu, ternyata lampu sudah menyala. Saat itu aku santai sambil berlagak mencari surat-surat.
Awalnya polisi itu nampak senang, tetapi ketika aku perlahan-lahan memunculkan SIM dan STNK satu persatu, wajah polisi itu berubah masam. Hahaha.. bapaknya gonduk.
Kami melaju meninggalkan wajah sang bapak polisi yang kecolongan karena salah menghentikan kami. Alhamdulillah
Virgin terletak di jalan protokol tempat bus dan truk antar kota maupun provinsi melewati jalan tersebut. Aku melajukan motor diantara truk-truk pelabuhan, debu beterbangan tak tentu arah, sambil mencari-cari di mana letak virgin sebenarnya.
Sampai di virgin, aku langsung memilih roti-roti kesenanganku dan Arum :D
Kulihat ada cupcake kecil di bagian cake yang besar, dengan taburan coklat yang menawan dan menggoda. Aku membelinya satu.
Selesai berbelanja kami pulang ke kampus, kosku lebih dekat dari jalan utama, karena itu kami mengistirahatkan diri di sana.
Hari kamis adalah hari kami harus mengikuti agenda kajian keislaman. Kami bingung bagaimana caranya nanti membawa satu kotak roti ini yang sebenarnya memang akan kami makan sendiri :D. Tetapi tiba-tiba dapat short message bahwa hari ini ditunda dulu kajiannya, karena akan ada ujian dan kami baru satu kali mengikutinya.
Langsung setelah mendapat sms itu kami meluncur ke taman rektorat Unnes untuk sekedar duduk menikmati pemandangan sore yang sebagian besar di dominasi dengan tanah pecah dan kering kerontang. Musim kering memang membuat dampak besar bagi keberlangsungan makhluk hidup di wilayah kampus.
Aku meng-sms Asma untuk segera datang ke taman rektorat dengan alasan buku yang ingin Ia pinjam sudah aku bawa. Awalnya Asma males-malesan mungkin dia mengira kami akan memberi kejutan padahal enggak. Tapi setelah aku bilang kalau tak mau ya sudah aku mau pulang, dia akhirnya menemui kami.
Dengan malu-malu dan merasa akan dikerjain dia mencoba menolak mendekati kami. Aku hanya cuek saja sambil memakan roti pizza yang sudah aku beli, duduk di kursi taman. Selain itu alasan terbesar karena kakiku mulai bengkak akibat tadi tersandung batu.
Ah ya, ada rahasia kecil di sini, cupcake yang aku beli sebenarnya itu untuk Asma tapi karena Asma tiba-tiba datang di belakang kami aku dan Arum terkejut, tak sempat untuk menyembunyikan cupcake itu.
Tapi sebelum Asma mendekat Arum mengajaknya untuk memindahkan motor Vario yang tadi kami pakai karena tak terlihat dari tempat nongkrong kami. Aku tak ikut karena asyik makan roti :D. Cukup lama mereka memindahkan motor, kulihat mereka kembali tanpa membawa motor, aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Kekhawatiranku itu terhapus karena kulihat Asma dan Arum sudah membawa motor.
“Tahu nggak Ppie, tadi kita salah motor!” cerita Arum.
“Hah?” tanyaku terkejut sekaligus heran.
“Tadi kata Arum motor vario merah, tapi motor vario merah ada banyak. Dia bingung motornya yang mana, waktu kita coba kunci motornya nggak masuk-masuk,” kata Asma.
“Trus?”
“Ya kita salah motor,” sahut Arum.
“Jelas-jelas Mb Citra bukan orang Semarang, padahal nomor polisinya itu H!” geruta Asma.
“Huwahahahahaha!!”
Ada banyak orang di sana. Dan mungkin semuanya melihat mereka berdua layaknya maling kecil yang mencolok dan tak berpengalaman. Hehehe. Kami bertiga duduk-duduk di atas bangku taman sambil berbagi roti. Tepat saat itu ada dua orang mas-mas melajukan motor vario yang tadi mereka kira motor Mb Citra. Kami bertiga terbahak-bahak lagi.
Kami saling memilih roti mana yang kami suka, Asma dapat bagian roti durian dan roti pizza.
“Yaah.. kok nggak ada coklat, aku pengen coklat ini,” kata Asma protes.
“Kan kau suka durian, jadi ya aku kasih durian ini. Hahaha,” kataku.
“Tapi kan aku sukanya durian beneran...”
Kami makan roti bersama-sama. Tiba-tiba tanganku masuk ke dalam tas dan aku mengeluarkan cupcake coklat bertabur coklat.
“Niih!! Katanya pengen coklat,” untung tadi aku sempat menyembunyikan cupcakenya sebelum Asma kemari.
coba tebak ituu alasnya taplak punya siapa?? :D
Entahlah bagaimana ekspresi Asma mungkin tak terkejut dan terkejut. Silahkan bertanya sendiri padanya bagi yang mengenalnya.
Setelah itu, ini bagian yang kusuka.
TRAKTIR MAKAAAAAN!!!!
Hahaha
Aku dan Arum jungkir balik membujuk Asma agar mau mentraktir kami berdua. Walau bokek tetap saja kami ingin ditraktir. Akhirnya Asma menyetujui.
Lalu aku mendelegasikan Ela untuk diajak. Akhirnya aku menelpon Ela dan bilang
“Assalamu’alaikum.. La kamu dimana? Di kos? Kalau gitu dalam 1 menit kita jemput kamu, Asma mau ngajakin makan. Buruan siap-siap ini mau langsung meluncur!” aku langsung menutup telpon sambil tertawa-tawa. Entah bagaimana reaksi heboh Ela.
Kami lalu segera pergi menuju kos Ela dan di sana menunggu beberapa lama karena dia belum siap.
Akhirnya kami makaaaaann.....
Beginilah fotonya :D





cieee yg ultah, dapet minuman gratis boo..












omoo!!! ela ngabisin buanyak bangeet




Selasa, 25 September 2012

[PUISI] Dear Allah #2

Allah...
Aku rela ini terjadi padaku
Asalkan aku bisa lebih dekat denganMu

Allah...
Aku bahagia dengan hidupku
Menjalani sisa usia yang kau berikan untukku

Allah...
Ijinkan aku
Mudahkan aku
Dalam berinteraksi dengan firmanMu

Allah...
Mimpiku sekarang
Jubah terindah kedua orang tuaku
Bahagiakan keduanya dengan kado hafalanku

Allah...
Biarkan merasakan anugerah ini sendiri
Jangan bebani ayah dan ibuku
Jangan berikan duka mendalam pada mereka
Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum
Aku hanya ingin membuat mereka bangga
Aku hanya ingin menyenangkan hati keduanya
Hanya itu sekarang mimpiku di dunia
Membahagiakan mereka berdua
Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 22 September 2012

[CERPEN] Helm Koran


            Libur sekolah telah selesai, anak-anak sekolah harus bersiap kembali ke sekolah dengan segala cerita dan unek-uneknya. Namaku Roto dalam bahasa jawa artinya Rata entah mengapa orang tuaku memberi nama itu, tapi mungkin harapan orang tuaku, hidupku menjadi rata tanpa ada hambatan. Namun sepertinya doa itu belum terkabul juga karena aku sering merasakan keapesan yang tak jarang. Kalau pun bukan aku yang mengalami keapesan tetap saja seringkali jika ada aku, keapesan itu terjadi.
            Aku tergopoh-gopoh memasuki kelas sambil membawa helm abu-abu kesayanganku. Sebentar lagi bel sekolah berdengung panjang pertanda seluruh siswa harus sudah duduk manis di dalam kelas. Langsung aku menuju bagian belakang kelas, tempat lemari helm bersemayam di sana.
Di sekolahku setiap kelas memang disediakan satu lemari untuk menyimpan berkas. Namun sepertinya lemari itu sudah beralih fungsi sebagai penyimpanan helm para siswa. Sudah banyak kasus kehilangan helm yang terjadi di sekolahku, karena itulah kami tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan helm kami berada di motor.
Aku menatap lemari itu dengan bingung, tak biasanya lemari itu penuh dengan helm. Kalaupun full biasanya aku tetap dapat tempat. Hanya beberapa anak yang membawa helmnya ke kelas.  
            Kulihat ada satu helm asing yang sudah nangkring di laci kedua tempat biasa aku meletakkan helm. Helm itu berwarna putih dengan hiasan-hiasan koran yang seolah-olah ditempel di helm itu, kalau dilihat sekilas sih memang seperti koran tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, ternyata itu gambar tengkorak. Gubrak!!
            “Ini helm siapa yaa??” tanyaku bertepatan dengan bel sekolah yang akhirnya berbunyi. Beberapa temanku yang baru saja dari kantin memasuki kelas. Kuulangi sekali lagi pertanyaanku karena tak ada sahutan.
            Teman sebangkuku melihat ke arahku. Ia baru saja datang dari kantin untuk sarapan. Sambil cengar-cengir Ia mengangkat tangannya tanpa bersuara. Aku langsung sadar kalau itu helmnya. Kutaruh helmku dilantai tak peduli dengan tempat helmku yang sudah ditempati. Aku berjalan kearahnya sekaligus juga menempati bangkuku.
            “Cieeee… helm baru nih El,” godaku padanya. Aku tak tersinggung tempat mangkal helmku diambil olehnya. Pendatang baru harus dihormati. Ceilaah..
            “Ah enggak kok.., baru lihat kali. Belinya udah dari kemarin,” katanya merendah.
            Aku hanya tersenyum jahil. El pasang tampang cuek walaupun sebenarnya dalam hati Ia senang karena helm barunya aku perhatikan. Aku bertanya-tanya padanya mengenai helm itu, belinya dimana, harganya berapa, kenapa pilih itu, dan semua jawabannya adalah senyum dan diam.
            El ini memang sok cool sekali. Akhirnya aku lelah sendiri karena tidak ada sahutan jawaban dari dirinya. Tetapi aku tidak tersinggung dengan sikap El itu, karena dia memang orangnya seperti itu.
            Aku memainkan jemari tangan kananku dan mengetuk-ngetukkannya di meja. Sedangkan tangan kiriku hanya bertopang dagu. Ini sudah satu jam dari jeritan bel masuk sekolah, tetapi belum ada tanda-tanda wali kelas kami yang juga mengajar agama Islam masuk ke dalam kelas. El akhirnya berinisiatif ke kantor memanggil wali kelas kami.
            Ia kembali tanpa membawa seseorang, “Bu Lia sedang opname di rumah sakit, sudah dua minggu ini beliau di rawat. Katanya habis operasi,” katanya memberi pengumuman kepada seisi kelas.
            Semua teman terkejut dan khawatir. Wali kelas kami tercinta. Walaupun bawel dan galak tetapi beliau sangat sayang kepada kami semua. Justru jika tak pernah memarahi kami berarti beliau sudah tak sayang dan tak peduli pada kami.
            Akhirnya kami sekelas berencana menjenguk Bu Lia sepulang sekolah. Supaya aman terkendali, kami menyewa angkot yang sering lalu lalang di depan sekolah kami, namun ternyata kapasitas mobil angkot tidak cukup untuk menampung semuanya. Semua anak cowok memilih naik motor termasuk aku dan El.
            Sampai di rumah sakit, kami melihat wali kelas kami terbaring dengan ceria. Tak ada wajah kesakitan ataupun lemah, bahkan beliau dengan santai memainkan infus yang tentu saja hanya suster yang boleh menghentikan atau mengalirkan cairan infus. Bu Lia menjalani operasi pengangkatan daging yang tumbuh di bagian perutnya dan ternyata Bu Lia sudah masuk rumah sakit sejak kami libur sekolah, tapi tak ada warga sekolah yang mengetahuinya. Baru ketika masa libur sekolah berakhir karena Bu Lia terus-menerus tidak masuk akhirnya semua orang tahu kalau Bu Lia masuk rumah sakit.
            Hari mulai gelap menjelang waktu maghrib. Kami berpamitan pulang pada Bu Lia dan berharap beliau segera sembuh. Aku dan El berpisah dengan teman-teman yang lain, kami berjalan menuju tempat parkiran motor.
            Kali ini giliran aku yang berada di depan menyetir motor. Saat kami sampai di motor, ada sesuatu yang janggal. Helm koran El menghilang. Ada bekas jok yang baru saja di sobek tempat tadi El meletakkan helmnya di dalam jok. Helm El dicuri.
            Kami berdua panik. Bertanya pada petugas pun mereka tak peduli, pandangan mereka mengatakan, urus saja helmmu sendiri, Kami tidak bertanggung jawab atas kehilangan helm. Aku kasihan pada El yang hanya bisa terdiam pasrah. Bagaimana bisa pulang tanpa membawa helm, teman-temanku juga rumahnya jauh dari tempat itu.
            “Gimana ini enaknya? Apa mau nerobos aja?” tanyaku pada El. Ia tampak berpikir dan akhirnya hanya bisa mengangguk. Kulihat angkot teman-teman kami baru saja keluar dari tempat parkir. Kami berdua melambaikan tangan pada mereka.
            El memandang dengan pandangan terkejut, “Yah! Kenapa tadi aku nggak bareng angkot aja, meski sempit kan masih bisa masuk!” katanya menyesal.
            Aku juga baru sadar dengan perkataan El barusan. Oh iya yah, kalau dia naik angkot kan bisa aman tanpa harus ketakutan jika nanti ada patroli polisi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, angkot itu sudah melenggang pergi dan hanya menyisakan jejak aspal pada kami yang kebingungan.
            Akhirnya mau tak mau kami berdua mengendarai motor dengan hanya satu helm yang kupakai. Aku juga was was dengan hal ini, yang kami lewati merupakan jalan protokol yang tentu saja harus mengikuti berbagai prosedur keselamatan. Pelan-pelan aku mencoba melewati jalan yang jarang dilalui oleh polisi.
            “Awas To.., ati-ati!!” peringat El. Dia heboh sekali takut ditangkap polisi. Aku tak kalah takut juga. Tangan ini sudah gemetaran sejak tadi.
            Sampai di pusat kotanya Semarang, simpang lima. Kami tidak melewati daerah simpang lima, tetapi melewati salah satu dari simpang tersebut, Jl Pahlawan. Untuk sampai di seberang Jl Pahlawan, kami harus menyebrangi Jl Pahlawan yang banyak polisi berlalu lalang.
            Tanpa helm koran El dengan terpaksa Ia harus berjalan menyebrang jalan dan aku pura-pura naik motor sendirian. Aku melihat kanan-kiri apakah ada polisi yang memperhatikan kami. El juga berjalan mengendap-endap walaupun tentu saja nampak terlihat seperti jalan biasa.
Tiba-tiba ada polisi lewat dengan mengendarai sepeda motor dinasnya. Aku menahan nafas takut dicurigai jika aku baru saja memboncengkan El yang tak menggunakan helm. Polisi itu benar-benar menghampiriku yang menjalankan sepeda motor pelan-pelan. El yang melihatku juga tak kalah panik dan tanpa Ia sadari Ia berdiri mematung.
“Dek standarnya!” kata polisi itu sambil menunjuk besi yang biasa menopang sepeda motor ketika berhenti agar tetap tegak berdiri.
Aku melongo terkejut sekaligus lega. Si Bapak polisi ternyata tidak curiga dengan ulahku yang barusan dan nantinya akan terjadi. Akhirnya El sukses menyebrang, aku menunggu El yang masih berjalan mendekatiku sambil berlari menggendong tas ranselnya. Kasihan juga Ia, gara-gara helm koran semua ini terjadi.
            “Hehehe.. sorry yaa..,” kataku tulus padanya.
            “Ngapain minta maap. Capcus bro…!!” El sudah menemukan kembali keceriaannya.
            Kami sampai sekolah dengan selamat. Aku mengambil motorku yang kutitipkan di sekolah dan El pulang ke rumah tanpa memakai helm koran-nya yang kini sudah berpindah tangan dengan terpaksa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...