Minggu, 25 April 2010

[SINOPSISFILM] Song of the Sun (Taiyo no Uta)


Kaoru sedang memandangi lingkungan rumah dari kamarnya yang ada di atas. Matahari mulai menampakkan sinarnya, ia tersenyum memandang dari balik kaca kamarnya, matahari yang akan muncul. Tampak Ia sedang menunggu seseorang.

Sebuah motor mengalihkan pandangannya. Ia melihat seorang pemuda yang mengendarai membawa papan selancar. Pemuda itu menghentikan motornya di dekat mesin minuman.
Kaoru memandangi pemuda tersebut dengan kagum. Setelah pemuda itu membeli minuman dan dia duduk di sebuah bangku biru dekat mesin minuman. Wajahnya terhalang oleh palang tanda lalu lintas. Kaoru mencoba untuk mencari celah agar dapat memandang pemuda itu.
Tak lama kemudian datang dua buah motor yang mendatangi pemuda tersebut. Sepertinya mereka teman pemuda itu. Pemuda itu memukulkan kepala masing-masing temannya (mungkin konsekuensi karena terlambat datang). Mereka kemudian menyalakan motor dan berlalu sambil membawa barang bawaan yang sama, papan selancar.
Kaoru di seberang jalan kemudian menutup jendelanya dan membiarkan matahari yang mulai tampak seluruh badannya. Ia kemudian beranjak ke kasur, Ia berpikir sebentar lalu menyelimuti dirinya kemudian tidur.



Siang hari orang-orang berlalu lalang melakukan aktifitasnya. Kereta sibuk menghantarkan para manusia. Laut pun ramai dengan para peselancar. Waktu terus berjalan dan matahari kemudian tenggelam dan malam mulai muncul.
Kaoru terbangun dari tidurnya, Ia kemudian membuka jendela yang telah menampakkan pemandangan gelap di luar sana. Kaoru lalu turun dari kamarnya. Ayah Kaoru sedang memotong kuku dan Ibu Kaoru sedang menyiapkan makan malam.
Kaoru mengambil lotion dari meja di samping ayahnya kemudian mengoleskannya di wajah dan tangan. Ibunya sedang menyiapkan makan malam.
“Kamu malam ini pergi juga?” Tanya Ibu sambil membawa makanan ke meja makan
“Ya!” jawab Kaoru singkat sambil tetap mengoleskan lotion.
“Tiap malam, itulah yang kamu lakukan. Membuat lagukan?” kali ini Ayah yang berbicara. Kaoru mengangguk. “Tiada artinya kan?”
“Bukan masalah”
Ayah beranjak dari kursinya menuju meja makan, “Tiada pilihan. Karena hari ini adalah hari liburku. Bu, aku akan pergi melihatnya”
Kaoru memandang tajam ayahnya. “Akan kubunuh jika kau datang!”
Ayahnya menatap Kaoru dan mengangguk pasrah. Ibu menaruh makanan lagi di meja makan (berapa banyak sih makanannya?). Mereka kemudian duduk di meja makan
Ibu : Kau tahu kapan matahari terbit kan?
Kaoru : Yah
Ibu : Jangan bilang ya saja
Kaoru : 4.40 am
Ibu : Karena sudah begitu pastikan kau pulang sebelum jam 4
Kaoru : Aku mengerti
Ibu : Jangan pergi terlalu jauh
Kaoru : Yah . Yah
Ayahnya menuangkan teh di gelas Kaoru
Kaoru : Terima kasih untuk makanannya
Ibu : Silahkan

Selesai makan, Kaoru berjalan keluar sambil membawa gitarnya. Ia menyeberangi rel kereta kemudian berhenti di sebuah tempat. Puntung rokok berserakan di tanah sebelum duduk Ia terlebih dahulu menyingkirkannya.


Sebuah mobil polisi datang dan berhenti. Dari kejauhan, dua polisi yang sedang berpatroli itu memperhatikan Kaoru.
“Bagaimanapun kau melihatnya, dia di bawah umur” kata polisi yang lebih muda. “Pada waktu seperti ini, apakah dia tersesat?” Polisi muda itu hendak melepaskan sabuk pengamannya.
“Tidak apa-apa, kau tidak perlu mencemaskan gadis itu,” kata polisi yang lebih tua. “Orang tuanya sudah mengatakan sebelumnya”
“Mengatakan apa?”
Polisi tua itu menghadapkan wajahnya ke jalan. “Bagaimana mengatakannya…, XP adalah sejenis alergi. Penderitanya akan mati jika mereka terkena sinar matahari”
Polisi muda menatap polisi tua dengan heran. Kemudian polisi tua itu mengalihkan pandangannya ke arah Kaoru sambil berkata, “Itu adalah mengapa dia hanya dapat keluar malam hari”

Selesai membersihkan, Kaoru duduk dan mengambil gitarnya lalu Ia menyalakan korek dan menaruh apinya di sebuah tempat lilin (tempat lilinnya bagus deh..) lalu ia menyanyi. (benar-benar nyanyian sepenuh hati). Sebuah lagu untuk matahari.
characters page2

0 coretan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...