Senin, 05 Desember 2011

[Cerpen] Ta'aruf Indah


           Seperti biasa setiap pagi aku berangkat ke sekolah. Menimba ilmu dari guru yang berbeda di setiap mapelnya. Sekolahku memberlakukan beberapa peraturan yang berbeda dari sekolah lain dan juga cukup unik karena di sekolahku yang dulu tidak ada peraturan itu. Misalnya siswa harus memakai sepatu hitam dari senin sampai jum’at sedang sabtu barulah siswa diberi kebebasan mengenakan sepatu warna apa saja. Juga sekolah yang memberlakukan peraturan penutupan gerbang, jadi begini, setiap pukul 7 pagi hingga 7.30 sekolah akan menutup gerbangnya dan tak membiarkan siapa pun masuk termasuk para guru apabila terlambat juga. Dan yang membuatku tersenyum mengulum adalah jaket yang harus dilepas sebelum memasuki gerbang karena setiap kami memasuki gerbang akan disambut oleh para tim STP2K selalu memeriksa seragam kami apakah sudah lengkap atribut dan segala macamnya.
            Dan seperti biasanya pula aku melepas jaketku diluar gerbang. Saat itu aku masih menggunakan sepeda onthelku yang baru saja dibelikan oleh ibu. Ketika berhenti di depan dan melepas jaket, aku melihat sebuah mobil di depanku. Pemandangan biasa orang tua yang mengantarkan anaknya berangkat sekolah. Tapi saat kulihat seorang siswa turun dari mobilnya dengan menenteng keyboard besar yang pastinya cukup berat, aku takjub. Wow! Dia pasti pandai bermusik sampai-sampai rela menenteng keyboardnya ke sekolah.

            Aku mengetahuinya. Walaupun aku tak tahu pasti namanya. Karena aku tahu dia adalah tetangga kelasku. Satu-satunya kelas yang persis di sebelah kelasku, kelasku berada di bagian paling pojok sehingga hanya kelasnyalah aku berhimpitan.
            Hari ini memang akan ada penilaian seni musik. Bahkan setiap kelompok sudah dihimbau oleh guru yang mengampu untuk bisa menunjukkan kebolehannya dalam mengolah lagu dan lagu itu adalah hasil karya sendiri. Bukan jiplakan atau dari band terkenal yang saat ini sedang booming. Aku takjub pada anak itu yang rela membawa keyboard, sebegitu bersungguh-sungguhnya. Jauh dari apa yang sudah aku lakukan.
            Pentas seni musik yang hanya dilihat satu kelas buatku biasa saja. Karena jujur aku tidak memiliki jiwa musik yang baik. Benar-benar buta nada. Hahaha
            Aku bertemu lagi dengannya ketika kami sama-sama keluar kelas saat jam istirahat. Aku tahu dia selalu bersama kawan sebangkunya, Amoy namanya. Aku mengenal Amoy entah saat momen apa aku lupa. Aku melirik label nama yang ada pada teman di samping Amoy, ingat hanya sedikit karena aku tak mau dia melihatku memperhatikannya. Najja. Ooo.. jadi namanya Najja.
            Sebenarnya aku ingin mengajaknya berkenalan saat itu juga. Tapi melihat wajahnya yang tanpa senyum aku jadi mengurungkan niatku itu. Sudahlah toh dia juga paling tak mempedulikanku.     Aku masih ingat kejadian itu tetapi hanya sekedar ingat dan kemudian aku kembali pada sikapku yang cuek.
           
            Tahun ajaran baru kelas baru dan mungkin saja teman baru. Karena saat itu aku diberitahu bahwa kelasku dan dua kelas lainnya akan dicampur dengan teman dari dua kelas lainnya. Kelasku memang bukan kelas regular, kelas dinamai kelas imersi. Karena menggunakan dua bahasa dalam pelajarannya. Kata orang kelas itu istimewa, tetapi buatku biasa saja seimbang dengan prestasiku di sekolah yang juga biasa saja.
            Sampai di sekolah sudah ramai. Aku berpisah dengan banyak teman dekatku ketika kelas X. Istilah kelas baru tak berarti bagiku karena ternyata aku ditempatkan lagi di kelasku yang dulu yang sudah berubah title menjadi ‘XI IA 1’. Lemas sudah organ tubuhku karena harus berkutat di kelas itu setahun ke depan.
            Aku mencari tempat duduk paling depan. Tetapi saat itu tempat strategis sudah diduduki oleh beberapa teman yang berangkatnya lebih awal. Aku melihat daftar nama teman-teman sekelasku yang terpampang di jendela depan kelas. Aku mengabsen alumni X1, kelas yang dulu menjadi tempatku bernaung. Sungguh mengecewakan karena para kawan akrabku tidak ada yang satu kelas denganku. Bahkan aku satu kelas dengan teman-teman yang kurang begitu ku kenal di kelas X dulu. Benar-benar bingung mau duduk di mana. Sebenarnya aku di ajak oleh temanku yang dulu juga kelas X untuk duduk di belakang, tetapi aku menolak karena aku paling anti duduk belakang. Aku selalu sebal ketika mendapati bangku belakang. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di depan tepat di depan guru persis. Tentu saja bangku itu dua-duanya masih kosong karena aku tahu teman-temanku pasti mencari bangku yang belakang tempat strategis menurut mereka.
            Hingga bel menjelang aku juga tak kunjung mendapatkan teman sebangku. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingku. Aku sangat terkejut karena yang ada di sampingku adalah seorang laki-laki. Aku tak pernah duduk sebangku dengan anak laki-laki sebelumnya. Walau kecewa, aku mempersilahkannya duduk. Untungnya meja kelas di atur untuk satu anak satu bangku, jadi aku tidak perlu berdekatan dengannya. Apalagi saat itu di belakangku ada Faya yang sudah kukenal dekat dari kelas X karena kami satu organisasi di rohis.
            Sejak saat itu kami berempat, Rendra, Faya, Dira dan aku sendiri seringkali mengobrol walaupun tidak seakrab saat aku dulu dengan temanku di kelas X. Tak ada yang terkenang baik saat itu, aku pun juga tak terlalu ingin mengingatnya.
            Sampai saat itu terjadi. Rendra memutuskan untuk pindah ke belakang dan alhasil aku sendirian di depan. Tak mengapa untukku karena aku toh tinggal fokus belajar tanpa harus terusik dengan yang lain. Beberapa hari aku sendiri. Sebenarnya aku bisa saja dengan anak baru yang juga duduk di depan tetapi tempatnya pojok jauh dari guru. Dia juga sendirian sebenarnya sama sepertiku tapi aku nyaman saja duduk sendiri sehingga membuatku enggan untuk pindah duduk.
            Tiba-tiba saja sebelum pelajaran Pak Pur, guru legendaris yang sudah bertahun-tahun mengajar ilmu eksak yang sampai saat itu belum aku pahami sepenuhnya. Fisika. Najja pindah duduk di sebelahku.
            “Aku boleh duduk di sini?” tanyanya datar. Aku hanya bengong dan mengangguk. Saat itu aku benar-benar baru sadar kalau aku punya teman sekelas bernama Najja. Sungguh rasa cuek ku memang benar-benar keterlaluan, aku pun mengutuki diriku sendiri kenapa sampai tidak sadar kalau aku sekelas dengannya. Memang saat di kelas dia lebih banyak diam dan menyendiri. Sampai-sampai aku tak terlalu memperhatikannya.
            Kami mendengarkan pelajaran Pak Pur dengan seksama. Kulirik buku yang sedang Ia tulis dengan rumus-rumus fisika. Mataku terbelalak melihat tulisannya yang amat sangat rapi. Jujur aku baru melihat tulisan rapi itu seumur hidupku. Memang agak terlihat berlebihan. Tetapi memang seperti itu. Tulisan sahabatku, Fitri yang dulu teman SD dan SMP ku yang memang terkenal rapi satu kelas kalah oleh tulisannya.
            “Wow!! Itu tulisannya rapi banget!!” teriakku padanya tanpa ragu memperlihatkan kekagumanku. Najja hanya tersenyum malu.
            “Ah biasa aja kok,” jawabnya dengan malu-malu.
            “Tapi beneran deh itu rapi banget, aku aja nggak bisa nulis serapi itu. Oh ya kita belum kenalan. Namaku Zarra,” kataku padanya tanpa ada jabat tangan.
            “Najja,” balasnya. Hmm.. aku sudah tahu itu.

            Sejak saat itu kami pun resmi menjadi teman sebangku. Dan aku baru menyadari ternyata dia bukan seperti apa yang aku lihat sebelumnya. Dia memang terlihat dingin dari luar tapi ternyata setelah mengenalnya lebih dalam benar-benar hangat pribadinya. Bahkan selera humornya membuat perut selalu terkocak. Hahaha.

 
Tidak sampai kita dicoba
Yang akan meletihkan akal karenanya
Sebab sayangnya kepada kita
Kita pun tak ragu, kita pun tak sangsi.
 
- Syarafuddin Muhammad al-Bushiri -

0 coretan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...