Jumat, 13 April 2012

[Cerpen] From Zero to Hero


Mimpi kami berdua. Aku teringat saat pelajaran sedang berlangsung. Kalau tidak salah pelajaran Bahasa Indonesia, karena selain gurunya menyenangkan juga memberikan kami banyak kelonggaran untuk bercengkrama dengan teman. Hehehe.
Aku sering mendengarnya bercita-cita sebagai dokter. Hanya sebagai dokter. Tak ingin berandai-andai menjadi orang lain. Berbeda denganku. Aku memiliki banyak impian yang bisa terombang-ambing karena orang lain. Keinginan terbesarku menjadi seorang penulis, tetapi aku sendiri tak mengimbanginya dengan banyak menulis. Impianku menjadi seorang akuntan, tetapi aku tak berlatih soal apapun mengenai akuntan. Impianku menjadi seorang menteri, tetapi aku malas mengikuti perkembangan politik yang carut marut.
Aku melihatnya mulai belajar dari sekarang. Dia sering memberikanku bacaan-bacaan mengenai kesehatan. Bahkan tak sungkan Ia menceritakan tentang buku yang baru saja Ia baca. Mulai dari buku pengobatan ala timur tengah, ala modern, tradisional, sampai buku yang menceritakan betapa kontroversialnya pengobatan modern. Aku lebih suka mendengarkannya bercerita dibanding membaca sendiri, karena aku terlalu banyak tak paham mengenai istilah-istilah yang ada.
“Kemarin aku habis baca buku punya papa. Bukunya itu menceritakan tentang bobroknya pengobatan modern,” katanya bersemangat.
“Kok bisa gitu? Emangnya kenapa? Kan canggih tu alatnya.”
“Bukan masalah canggih peralatannya. Jadi gini, pengobatan barat kamu tahu sendiri kalau selalu aja ngasih obat-obat kimia yang pahitnya Masya Allah. Dan itu ternyata nggak memberikan kesembuhan”
“Aku nyatanya sembuh tuh habis minum obat”
“Iya memang reaksinya lebih cepat daripada obat herbal. Tetapi sebenarnya obat kimia itu cuma penghilang sementara. Enggak membasmi sampai akarnya. Ibaratnya ya cuma buat benteng gitu lah, tapi musuhnya masih berkeliaran di luar benteng. Entar kalo bentengnya udah rusak langsung deh musuh itu nyerbu masuk. Parahnya lagi, kalau benteng itu dibuat sama maka para musuh itu akan kebal karena sudah tahu konstruksi benteng itu. Untuk itulah dibuat benteng yang lebih kokoh agar musuh itu tidak bisa masuk kembali dan tentu saja dosis obatnya bertambah biar bentengnya jadi kokoh,”
“Iiih.. serem juga ya. Kalau penyakitnya dah kebal berarti nggak bisa disembuhin lagi donk,” celutukku.
“Nah, itulah buruknya pengobatan modern. Bukannya menghilangkan tetapi hanya menunda penyakit itu datang. Bukannya menyembuhkan tetapi menambahkan obat agar bentengnya kuat. Ckckck” Dia hanya menggelengkan kepala melihat perkembangan dunia kedokteran saat ini. Memang canggih tetapi terkadang kurang ampun. “Lebih baik minum obat herbal, biarpun lama sembuhnya setidaknya obat herbal membunuh sampai akarnya tidak hanya sekedar membuat benteng,” katanya lagi.
Aku hanya mengangguk-angguk pertanda setuju. Dalam hati aku kagum padanya. Sebegitu kuat tekadnya hingga Ia mau belajar lebih dulu mengenai kesehatan. Mengenai cita-citanya yang sangat mulia.  Ketika itu aku berpikir bagaimana bisa Ia begitu termotivasi menjadi seorang dokter. Tetapi aku baru kali itu melihatnya begitu antusias dengan ilmu kesehatan. Atau mungkin karena guru biologi kami yang sering membukakan pemikiran kami tentang pengobatan ala barat. Bisa jadi itu.
Selain akrab denganku. Najja juga akrab dengan Dela, Firda, dan satu lagi Disti. Mereka berempat memang serasa tak terpisahkan, kemana-mana selalu bersama. Terkadang Najja bercerita tentang permasalahannya pada mereka bukan padaku. Tak mengapa selama dia nyaman dan mendapatkan solusi atas permasalahannya aku senang.
Pagi itu pelajaran Biologi  sedang berlangsung. Tapi seperti biasa guru kami juga bercerita tentang penyakit-penyakit yang tidak akan bisa disembuhkan oleh pengobatan barat, yaitu kanker. Guruku namanya Pak Nur, beliau menceritakan bahwa kanker itu penyakit dzolim. Bisa jadi disebabkan karena telah dzolim kepada orang tua atau dzolim terhadap suami.
Aku melihat Najja sekilas. Tak jelas wajahnya karena Ia sedang menunduk memandang hasil catatannya. Namun dari penglihatan sekilas itu menampakkan raut wajah duka yang mendalam. Aku tak mengerti. Dari belakang kulihat Firda mengelus pundak Najja. Disti yang duduk di belakang Firda juga menampakkan raut wajah sedih melihat Najja. Ada apa ini sebenarnya? Aku mencoba menenangkannya karena kulihat beberapa buliran air mata mulai jatuh dari matanya yang lentik. Walaupun tak paham apa permasalahannya, aku mencoba bersabar untuk tidak menanyakannya sampai Ia mau bercerita terlebih dahulu.
“Udah Ma.. Sabar ya Ma.,” kata Firda. Aku melihatnya dengan pandangan penuh tanya. Tapi Ia tak menjawab pandanganku itu. Bel berbunyi. Pelajaran pun diakhiri. Disti datang mendekati Najja. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak mendengar, tapi aku melihat Najja sudah mulai tenang. Alhamdulillah…
Walau penasaran, aku tetap tak ingin bertanya. Hingga sekolah usai kami tak berbicara mengenai kejadian tadi.
“Pulang dulu ya Sof,” pamitnya.
“Buru-buru amat Ma, mau kemana?” tanyaku. Karena memang jarang Ia pulang lebih awal. Ia memang lebih suka di sekolah bercengkerama dengan teman-teman di sekolah.
“Iya, aku mau ke rumah sakit”
“Memang siapa yang sakit?”
“Mamaku”
“Sakit apa?”
“Kanker,” Najja terdiam sejenak. Wajahnya nampak sedih. Tapi kemudian Ia hapus dengan keceriaan yang biasa Ia tampakkan padaku. “Ya udah ya.. Aku pulang dulu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikummussalam.. salam buat mama mu Ma, semoga lekas sembuh”
“Oke makasih”
Aku termangu di dalam kelas. Saat itu semua temanku sudah berlalu. Aku sendirian di kelas. Jadi ini penyebab dari dia begitu sedih saat guruku mengemukakan pemikirannya tentang kanker tadi. Maafkan aku sobat. Aku terlalu tak peduli dengan dirimu. Bahkan ketika kau ditempa beban yang berat bukan aku yang berada di sisimu karena aku terlalu takut. Ya aku terlalu takut jika ada kata yang ku lontarkan menyakitimu.
Sejak saat itu aku paham alasan Ia begitu sangat ingin mempelajari tentang ilmu kedokteran. Meskipun ini hanya statement tunggal dariku tapi aku yakin ini semua untuk mengabdikan diri pada mama yang sangat Ia cintai.
Aku doakan semoga kau bisa mencapai cita yang kau impikan. Dan aku ingin selalu melihat wajahmu yang dipenuhi dengan obsesi mimpi itu. Teruslah berjuang kawan. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

3 coretan:

さくら21Saa mengatakan...

kita memang terkadang kurang peka terhadap kondisi sekitarkarena keasyikan dg masalah sendiri... semangat, semoga kitaselalu diberi kelemputan hati untuk memahami kondisi sekitar kita

ooppie^,^vie mengatakan...

:)

ai mengatakan...

maafkan aku juga tak peka akan kondisi adik2 dan teman2 di Rf... yang pasti, LOVE YOU ALL...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...