Rabu, 13 Juni 2012

[KLMK] Edisi Sobek

Aku suka dengan roti sobek. Apalagi roti buatan w****r yg memang sudah terkenal kelezatannya di seantero Semarang. Sambil makan roti sobek aku keluar rumah hendak bermain bersama teman-temanku.
Saat itu jaman perburuan buah kersen. Buah merah dengan tekstur imut dan sangat lezat untuk disantap dalam perut keroncongan. Roti sobek milikku sudah ludes kulumat. Dan kini aku ikut teman-teman melakukan perburuan kersen.
"Hei! Di sana buahnya lebat!" teriak Riyan sambil menunjuk sebuah rumah kosong yang terletak di samping sawah dekat dengan SDku.
Kami berbondong-bondong menuju rumah kosong itu. Aku menelan ludah melihat rumah apa itu.
Sebuah rumah yg cukup megah di masa tahun 2000. Memiliki 2 lantai dengan balkon di atasnya. Kalau rumah itu dirawat sebenarnya akan menjadi hunian yang indah dan menjadi idaman. Sayang penghuninya memutuskan untuk tidak tinggal ditempat itu. Entah mengapa. Tapi bukan itu yg membuatku bergidik takut.
Di bagian atas pagar rumah itu, ada sebuah hiasan botol yg sedikit mirip dengan botol tempat tinggal jin di film Jin dan Jun. Konon kabarnya itu adalah tempat tinggal jin juga. Untungnya pohon kersen itu ada di ujung bagian depan rumah, jadi kami tak perlu berdekatan dengan pintu gerbang.
Mas Danar mengawali naik melewati pagar yang membatasi halaman dengan jalan. Diikuti Mas Nur dan kemudian Riyan. Para anak perempuan hanya menunggu di luar pagar karena kami tidak berani melewati pagar yang cukup runcing walaupun tidak terlalu tinggi. Sambil menunggu kami menyoraki mereka layaknya suporter sepak bola dan berbisik-bisik menunjukkan buah yang ingin dipetik pada tiga anak laki-laki itu. Kami tak berani berteriak karena kabarnya itu akan mengganggu jin yang beristirahat di sana.
"Itu buahnya udah mateng Yan!" tunjukku pada sebuah buah kersen yg sudah merah. Riyan melihat buah yang kutunjuk lalu berusaha mengambilkannya. Mas Danar dan Mas Nur sudah mendapat buah yang banyak. Riyan juga sudah lumayan. Mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi perburuan itu.
Mereka dengan santai turun dari pohon tanpa takut kepergok pemilik rumah. Aku dan Dina menunggu dengan riang gembira. Membayangkan setelah mereka melompati pagar runcing itu kami juga akan bisa mencicipi buah lezat itu.
Mas Danar menaiki pagar itu duluan disusul Mas Nur dan kemudian Riyan.
Kreeeek!! Tiba-tiba terdengar suara sobek di atas pagar. Kami melihat Riyan masih bertahan di atas pagar dengan muka pucat. Mas Danar langsung membantu Riyan turun sambil memegangi tangannya. Riyan tampak kesal sekaligus malu sambil menutupi pantatnya. Ia kemudian langsung lari meninggalkan kami yang terheran-heran.
Tapi tunggu dulu.., aku melihat sesuatu pada celana Riyan. Sebuah lubang besar menganga lebar di celana pendeknya di bagian belakang. Bwahahahaha… kami semua tertawa terbahak-bahak.
Rupanya celana Riyan tadi tersangkut di pagar runcing itu. Dia memakai celana pantai yang memang sangat longgar dan juga terbuat dari kain yang tipis. Pantas saja mudah sobek. Hahahaha

3 coretan:

Anonim mengatakan...

haha, yang ini kenapa diceritain mbak :D
dira

ooppie^,^vie mengatakan...

lucu sih.. kalo inget kjdan itu ngakak abis..

Anonim mengatakan...

haha,gapapa nih dishare :P
dira

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...