Kamis, 21 Juni 2012

[CERBUNG] Takdir Abal-Abal Episode 9

             Semua yang ada di situ adalah makanan pedas. Sambal, pare, daun singkong, bahkan lauknya pun telur pedas. Aku benar-benar lemas melihat menu itu. Rasanya ingin menangis membayangkan aku memakan itu semua. Tapi kalau tidak dimakan aku nggak enak dengan Mbak Ita yang dengan baik hati membelikanku.
            Sasa menatapku kasian. Sejak kecil aku memang paling anti dengan makanan pedas. Apalagi sambal, aku paling menghindari itu. Padahal orang Jawa notabene menyukai masakan pedas, entah aku tidak. Mungkin aku bukan Jawa tulen. Haha
            Mbak Ita menatap ekspresiku yang kesakitan, “Kenapa dek? Nggak suka sama lauknya ya?”
            Aku hanya bisa tersenyum pasrah dan mencoba melahap makanan itu. Sasa memalingkan muka melihat wajah minta tolongku. Ia juga tidak berani bilang kalau aku nggak suka makanan pedas.
            Makanan ini benar-benar membakar lidahku. Satu suapan saja sudah membuat seluruh mulutku berteriak panas. Untung Sasa cekatan mengambilkanku air minum. Aku memakan suap demi suap sambil dipandangi oleh Mbak Ita yang tersenyum tulus karena pikirnya makanan itu adalah yang kusuka.
            Keringatku banjir membasahi bajuku yang kupakai sejak pagi. Sudah gitu aku juga belum mandi. Menambah sedap aroma tubuhku. Mataku berair menahan rasa pedas dan ketakberdayaanku untuk menolak makanan itu
            Mbak Ita menatapku dengan pandangan heran. Sasa langsung menjelaskan pada Mbak Ita, “Dia itu kepedesan mbak, makanya sampai nangis gitu.”
            Aku sudah tak kuat lagi. Kubawa makanan itu ke belakang dan aku langsung mengambil air minum satu gelas penuh. Mbak Ita dan Sasa terkejut melihat tindakanku. Sasa buru-buru menjelaskan, “Opi itu pemalu mbak, makanya Ia langsung ke belakang biar nggak kelihatan banyak orang kalau dia menangis.”
            Mbak Ita ber’ooo’ ria. Ia memahami penjelasan Sasa dan tidak berusaha menyusulku. Sasa malah yang sekarang berdiri dan menghampiriku.
            “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir.
            “Gila Sa! Sumpah ya ini makanan pedes banget! Nggak kuat aku makannya! Udah aku buang sekarang! Gila! Bener-bener Gila!” umpatku.
            “Husy! Jangan mencela makanan gitu. Pamali tahu. Lagipula itu kan pemberian Mbak Ita yang perhatian sama kamu karena kamu belum makan, sekarang malah di buang”
            “Ya ampun Sa! Tahu sendiri aku nggak doyan makanan pedes, apalagi ini ada sambalnya juga. Bisa mati berdiri aku!” Aku mengipasi mulutku yang masih terasa panas terbakar. Air minum di sampingku sudah kandas dari tadi, air di galon pun juga sudah habis. Makin membara saja ini mulutku tak ada air.
            Sasa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Aku makin kesal melihat tingkahnya.
            “Ini anak! Kok malah ketawa sih?!”
            “Kamu percaya yang namanya kuwalat nggak? Mungkin ini balasan dari Allah karena hari ini kamu udah ngerjain aku sama Mas Salim, hahaha” Sasa langsung lari menghindar melihatku sudah mengacungkan tangan hendak menjitaknya.
            Mbak Ita melihat Sasa dengan heran, “Kamu kenapa Sa? Dateng dari belakang kok ketawa lebar gitu?”
            Sasa masih tertawa tak tertahan, “Itu si Opi konyol mbak, hahaha.” Sasa langsung pergi ke kamar tanpa bermaksud menjelaskan, meninggalkan orang-orang di ruang TV yang bertanya-tanya.
            Paginya terjadi kehebohan di kamar mandi. “Piiii!! Cepetan doong!! Nanti kita telat!!” teriak Dina sambil menggedor pintu kamar mandi.
            “Bentar Din! Masih mules nih..,” jawabku sambil menahan rasa sakit di perut. Dina menggerutu tak jelas dan tetap menyuruhku untuk segera.
            Aku keluar dari kamar mandi dengan lunglai sambil memegangi perut. Dina menatapku kasihan tapi Ia tak bisa membantuku karena Ia juga harus mandi agar tidak terlambat upacara 17 Agustus.
            Sasa menghampiriku di dalam kamar. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir. Aku hanya menggeleng lemah. Gara-gara makanan semalam sekarang aku harus merasakan sakit perut yang luar biasa. Disertai diare pula. Aduuuh. “Nggak usah berangkat dulu aja gimana? Lagian tempat upacaranya juga jauh,” saran Sasa.
            “Aku nggak apa-apa kok Sa, ini kan hari kedua kita kuliah. Kalau aku udah nggak masuk. Apa kata dunia!” kataku mencoba tabah.
            Sasa tersenyum dan mengangguk. “Ya sudah kalau gitu. Kamu buruan siap-siap gih. Kita kan kumpul di FBS dulu sebelum berangkat ke lapangan upacara.”
            Aku mengganti pakaianku dengan baju hitam putih ala guru PPL. Tak lupa mengenakan ikat pinggang dan menyiapkan kaos kaki putih. Perutku sudah mulai bersahabat lagi. Aku pun dengan riang gembira bersegera berangkat.Sasa dan yang lainnya sudah menungguku di belakang. Aku keluar kos dan mengenakan sepatuku.
            Tapi tiba-tiba aku berlari masuk ke kos, “Tunggu sebentar!” teriakku dari dalam. Semua orang heran melihat tingkahku dan serempak melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 06.00.

2 coretan:

Falzart Plain mengatakan...

Terus, dianya jawab: "Iya, ada apa? Mau saya tunggu sebentar atau tunggu sekarang? Hehehehe..."

ooppie^,^vie mengatakan...

salaaaah .... :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...