Jumat, 15 Juni 2012

[CERBUNG] Takdir Abal-Abal Episode 8

http://sirkulasijalanlangit.files.wordpress.com/2010/10/takdir-kecil.jpg?w=548
            Aku berjalan cepat meninggalkan Sasa yang terhuyung-huyung mengikutiku. kami berjalan pulang menuju kos. Aku masih mengingat kejadian menyebalkan tadi. Bagaimana bisa aku dan Sasa yang harus minta maaf, toh mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk. Hanya bermain di kamera CCTV yang semua orang bisa melakukannya.
            “Sudahlah Pi, tadi kan Mas Salim juga sudah minta maaf sama kita. Dia kan hanya menjalankan tugasnya, kita juga nggak boleh mengintimidasinya seperti itu. Meminta maaf lebih dulu bukan berarti kita kalah. Lagipula ini juga bukan kompetisi,” kata Sasa mencoba menenangkanku. Nafasnya terengah-engah karena mengikuti cara jalanku yang cepat.
            Tiba-tiba aku menghentikan langkahku sehingga Sasa yang berada di belakangku tak kuasa berhenti. Kami bertubrukan di jalan.
            “Iiiih!! Apa-apaan sih kamu main nubruk-nubruk aja!” kataku marah.
            “Kamu sendiri yang pake acara berhenti sgala!” kata Sasa tidak terima.
            “Eh.. eh tapi tadi aku keren kaaan??”
            “Apanya?!” tanya Sasa masih kesal.
            “Akting galakku di depan Mas Salim…” jawabku dengan cengiran usil.
            “Jadi itu semua… kamu marah-marah sama dia… semua itu akting?”
            Aku mengangguk santai. “Iyalah.., masa aku beneran marah sih. Emang aku salah karena udah main-main. Nyebelin banget pas aku main-main pencuri itu pasang aksi. Huh! Tapi setidaknya kita kan nggak kena marah dulu karena aku udah marah-marah duluan. Wkwkwk”
            Aku memandang Sasa yang ada di sampingku. Wajahnya mulai berubah dari merah menjadi ungu merah lagi dan akhirnya merah keunguan. Sorot matanya tajam memandangku tanpa berkedip. Mulutnya terkunci rapat tak mengucapkan sepatah katapun mengenai hal yang kulakukan tadi. Aku mencium gelagat tidak baik pada dirinya.
            “Opi..! kamuuuuu..!” suaranya penuh emosi. Aku langsung ambil langkah seribu sebelum Sasa sempat memukulku dengan tas jinjingnya. Sasa mengejarku dengan segenap hati dan jiwa raga, kekuatannya luar biasa. Sudah berkali-kali aku terkena terpaan tasnya.
            “Aaaaaa!! Ampun Sa! Ampuuuuunn!!” teriakku sambil berlarian sepanjang gang. Orang-orang yang berada di luar melihat kami dengan rasa ingin tahu.
            Sasa tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus saja memukuliku sampai kami berada tepat di depan kos. Aku langsung masuk dan bersembunyi dalam kamar. Nafasku terengah-engah karena harus berlarian. Begitu juga Sasa yang langsung terduduk di depan tv.
            “Kalau kejadian ini terulang lagi! Tak ada ampun bagimu!” teriak Sasa dari depan TV. Aku bergidik mendengarnya.
            Sasa kalau sudah marah memang mengerikan. Aku saja kalah dengannya, padahal aku paling hobi marah-marah. Aku menghirup udara dalam-dalam. Nafasku masih saja terengah-engah. Kakiku tiba-tiba merasakan linu yang luar biasa. Bahkan untuk digerakkanpun terasa sakit. Ada apa ini? Apa mungkin terlalu capek setelah mengikuti kegiatan dan berlari sepanjang jalan. Ah iya.., mungkin aku harus istirahat. Aku mulai mencoba untuk tidur dan berharap sakit itu akan hilang ketika aku bangun nanti.
            “Hah?! Jam berapa sekarang?!” Terkejut aku menyadari hari sudah petang. Dina sudah pulang dari kampus tapi tak nampak batang hidungnya. Hanya tasnya yang menampakkan keberadaannya kalau Ia sudah pulang.
            Aku terhuyung keluar kamar. Di ruang TV aku melihat semuanya sedang berkumpul sambil membaca Al-Qur’an. Aku tak menghiraukan penampilan acak-acakanku dan ikut bergabung bersama mereka. Aku baru sadar kalau sekarang sudah jam 8 malam. Lama dong aku tertidur.
            Sasa menghampiriku sambil berbisik, “Kamu ini berantakan banget sih?!”
            “Kok pada ngumpul kenapa Sa?” tanyaku tanpa mengindahkan ucapan Sasa.
            “Ini memang sudah kebiasaan di sini, tiap malam kita kumpul untuk sharing cerita. Tentang agenda di kampus atau bisa juga masalah pribadi,”
            Asik sekali di sini. Di rumah mana pernah ada kegiatan seperti ini. Aku lebih sering mengurung di kamar tanpa peduli dengan suasana rumah. Kalau keluar rumah pun aku juga tak mengenal siapa-siapa. Sejak kecil aku memang terkenal tertutup dan kuper. Berbeda sekali saat aku di luar rumah. Sosokku berubah menjadi seorang yang periang.
            “Dek Opi udah makan apa belum?” tanya Mbak Ita lembut. Aku hanya menggeleng, nyawaku belum terkumpul dengan baik jadi tak banyak bicara. Hehehe
            “Makan dulu yuk! Tadi mbak beliin nasi rames, mbak nggak tahu kesukaan Dek Opi tapi moga suka ya.. Ini!” Mbak Ita menyodorkan sebungkus nasi.
            “Makasih mbaak,” balasku dengan riang gembira.
            Orang-orang di sini baik-baik banget. Padahal aku dan Sasa belum terlalu mengenal mereka, tapi mereka welcome dengan kami yang hanya pendatang sementara. Bahkan kami diberi tinggal gratis di sini. Wah bisa betah deh di sini.
            Aku membuka nasi rames itu. Lidahku sudah berair membayangkan menu lezat di dalamnya. Rasa laparku menggelegar tak ada kompromi, maklum saja aku belum makan dari siang. Rasanya memang seperti orang puasa padahal aku nggak puasa.
            Nasi telah terbuka. Aku mendelik terkejut. Sasa yang juga melihat nampak kasihan padaku.

4 coretan:

Yumnaamufiidah mengatakan...

Bagus..bagus...tapi ukh tulisannya terlalu gelap jadi agak susah dibaca, alngkah lebih baiknya hurufnya warna cerah, putih misalnya...@_@
ditunggu cerita selanjutnya....

Yumnaamufiidah mengatakan...

Bagus..bagus...tapi ukh tulisannya terlalu gelap jadi agak susah dibaca, alngkah lebih baiknya hurufnya warna cerah, putih misalnya...@_@
ditunggu cerita selanjutnya....

ooppie^,^vie mengatakan...

jazakillah ukh.. :)
itu sbnrnya backgroundnya putih kok, kalo keliatan ungu tua mungkin krna loading na blm selesai, biasanya aku jg kyk gtu soalnya.. hehe

Falzart Plain mengatakan...

Kenapa makanannya?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...