Selasa, 17 Juli 2012

[KLMK] Selisih Paham

Rena memandang Nisyam sengit. Wajahnya menyiratkan kemarahan tak terkendali setelah melihat kelakuan Nisyam di papan tulis. Sebuah gambar manusia berwajah kelinci memakai kerudung terpampang di papan tulis kapur itu. Bagian atas gambar itu nampak jelas sebuah nama menunjukkan bahwa gambar itu bernama R-E-N-A.
                Nisyam dengan santainya dan tak peduli pada Rena yang hampir menangis. Ia pergi sambil tertawa-tawa bahagia karena telah membuat Rena malu. Lihat saja, semua teman sekelas malu-malu menertawai gambar itu. Terutama para anak laki-laki yang memang hobi meledek anak perempuan.
                “Kejaaaaaaam!!!” teriak Rena sambil melemparkan penghapus ke arah Nisyam yang sudah membelakangi Rena. Terang saja penghapus itu melayang tepat mengenai punggung Nisyam. Tampak bekas debu kotak tergambar jelas di punggungnya.
                Kali ini ganti Nisyam yang memandang Rena sengit. Tak terima dengan perlakuan Rena, Nisyam mengambil penghapus yang ada di meja guru dan melemparkannya ke Rena. Kena bahu Rena.
                “Sukuriiin…!” ledek Nisyam lalu lari menghindari Rena sambil tertawa-tawa. Nisyam merasa menang kali ini.
                Rena kesal bukan main. Tak peduli dengan rok panjang yang bisa menghambat larinya. Ia berlari sambil mengangkat rok hijau identitas sekolahnya. Mengejar Nisyam yang sudah berlari menuju ruangan di seberang gedung.
                Rena mencoba melemparkan penghapus lagi. Yeah! Tepat terkena di muka Nisyam yang hitam legam, membuatnya nampak sedikit putih :D
                Teman-teman Rena tidak terima dengan perlakuan Nisyam pada Rena. Mereka ikut membalas Nisyam dengan lemparan-lemparan kapur. Melihat Nisyam diperlakukan dengan semena-mena oleh anak perempuan, anak laki-laki pun bahu-membahu membela Nisyam. Terjadilah baku hantam penghapus dan kapur.
                Nisyam sudah berubah warna putih di sekujur tubuh. Rena hanya sedikit terkena debu kapur karena kedua penghapus berhasil dikuasai oleh anak perempuan.
                “Hiaaaat!!! Mati kau!! Mati kau!!” teriak Rena penuh dendam. Ia lemparkan lagi penghapusnya. Kali ini sedikit meleset sehingga hanya menyerempet paha Nisyam.
                Tergopoh-gopoh datang dua orang  dewasa dengan panik dan marah memandang kami semua yang masih saling berusaha memenangkan ego.
                “Astaghfirullahaladzim…!!! Anak-anak!! Hentikan ini!!” teriakannya menggelegar membuat mereka sejenak membeku.
                Bu Tina wali kelas mereka semua di kelas 3 SD. Semua anak sangat menghormatinya sebagai guru dan orang tua di sekolah. Tak ada yang berani membantah ucapannya. Tegas dan terhormat. Begitulah karakternya. Bulir air mata mulai bermunculan dari pelupuk mata indahnya.
                “Anak-anak Ibu kenapa jadi seperti ini… Anak-anak yang Ibu kenal sangat akur dan saling memaafkan. Ini bukan anak-anak Ibu… Anak-anak Ibu tidak akan berbuat seperti ini…,” katanya sesenggukan.
                “Nisyam dulu Bu yang mulai, dia menggambar jelek terus di tulis namaku di situ,” ucap Rena diikuti anak perempuan lain yang mengiyakan.
                “Rena dulu Bu. Awalnya Rena ngomongin Nisyam di belakang. Dia bilang Nisyam anak aneh, bodoh, nggak bisa apa-apa. Nisyam mau buktiin kalau Nisyam juga bisa bales Rena!” bela Nisyam.
                “Alaah.. Gitu aja sakit hati. Kayak anak perempuan aja,” cibir Rena.
                Nisyam hendak melayangkan balasan tapi dihentikan oleh Bu Tina.
“Tak ingatkah kalian sudah tiga tahun bersama? Hanya masalah sepele kalian bermusuhan seperti ini. Memang Ibu pernah mengajarkan kalian untuk berkelahi?”
Semuanya terdiam tak berusaha menjawab pertanyaan Bu Tina. “Ibu merasa telah menjadi guru yang gagal mendidik kalian. Selama ini Ibu mencoba untuk menjadi guru yang berguna, mencontohkan hal yang baik kepada kalian. Tapi ternyata Ibu belum berhasil, murid Ibu malah justru berkelahi, tak ada yang mau saling memaafkan.”
Rena berusaha berucap tapi Bu Tina menatap Rena dengan tatapan memohon untuk mendengarkannya sejenak. “Ibu sering bercerita tentang idola kita semua, Rasulullah. Beliau tidak pernah membalas perlakuan buruk yang Ia terima. Rasulullah dengan lapang dada memaafkan mereka. Bahkan ada orang yang berusaha membunuh Rasulullah tapi Rasul tetap saja memaafkan orang tersebut. Rasulullah yang nyawanya terancam saja masih bisa memaafkan, tidak bisakah kalian juga saling memaafkan?”
Anak-anak perempuan mulai saling sesenggukan. Anak laki-laki menunduk terdiam. Raut wajah mereka menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam. Tak ada yang berani bersuara, hanya suara tangisan pecah yang terdengar jelas. Bu Tina juga ikut menangis melihat anak-anaknya yang berbaris di depan saling menyesal.
“Sekarang, saling minta maaf. Tak boleh ada dendam di antara kalian..,” kata Bu Tina memandangi anak-anak tercintanya.
Rena dan Nisyam saling minta maaf diikuti oleh teman-temannya yang lain. Wajah cemberut masih terpampang di keduanya. Tapi demi sang guru mereka mau saling memaafkan. Walau awalnya terpaksa, tapi setelah itu mereka semua kembali tertawa dan bermain bersama. Masa kecil yang unik dan lucu, berantem, menangis, dan kemudian tertawa lagi.

4 coretan:

Anindita Kasyafi mengatakan...

ya itulah, marahan tp baikan lagi.. dendam hny sedalam got dpan rumah, tp skrg seperti palung sajaa..

ooppie^,^vie mengatakan...

eh got rmhqu dlu jg dlem looh.. dlu prnh tenggelem dstu qu.. item smua bdanqu.. *lol

Komunitas BPI mengatakan...

awal keterpaksaan dan akhirnya melupakan pertikaiaan,..
seru..

#blogwalking siang

ooppie^,^vie mengatakan...

hai salam hangat sahabat blogger..
makasih udah dibaca.. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...