Kamis, 24 Februari 2011

I Wish! part 1



Kini aku sudah sampai pada akhir masa sekolahku.

Nostalgia dikit yak masa-masa sekolah.


Buatku dari seluruh masa sekolah entah kenapa masa SD yang paling asik.
Enggak tahu kenapa, mungkin karena masa SD yang paling lama dibanding masa sekolah yang lain. Dan kita juga 6 tahun satu kelas, meskipun ada beberapa teman yang pindah sekolah.

Bisa dibilang waktu SD aku juga termasuk anak nakal wal bandel tapi nggak kelewat batas kok. Hahaha. Yang paling ku ingat dulu waktu kelas 3 SD aku pernah berantem ama anak cowok. Sampe kejar-kejaran sambil bawa penghapus papan tulis. Waktu itu jamannya masih papan tulis kapur jadi kalo kena bedakan gratis dah tu :D
Eh teman-teman lain juga ikutan, alhasil nak perempuan vs nak laki-laki. Karena saking ribut dan hebohnya. Wali kelasku turun tangan. Kita semua dibariskan di depan kelas. Anak-anak perempuan pada nangis semua. Yang cowok masih nggak mau kalah, aku yang nggak ikut dalam barisan air mata masih tetap memandang sinis ntu anak-anak. Kita masih salah-salahan waktu itu.
Tak kusadari, wali kelasku menangis melihat tingkah kami yang tak mencerminkan anak Islam. Aku pun kali itu benar-benar terdiam. Dan akhirnya wali kelasku meminta kami untuk saling meminta maaf dan memaafkan.


Selama SD, alhamdulillah aku selalu masuk 10 besar. Hingga tanpa pikir panjang aku pun memutuskan untuk bercita-cita sebagai dokter. Saat itu aku juga sudah mulai tertarik dengan dunia tulis menulis, berawal dari pelajaran jurnalistik yang tiap kamis jadualnya *paling inget yang hari Kamis, coz ganti-ganti juga harinya :D

Disitu kita diajarin gimana cara nulis yang baik. Juga gimana caranya jadi wartawan. Sempat tertarik juga untuk jadi wartawan, tapi hanya sekedar tertarik aja. Nggak lebih.
Saat itu aku masih bercita-cita menjadi seorang dokter yang bisa membantu sesamanya.

Cita-cita itu mulai bergeser saat aku kelas 6. Ketika itu kami akan diikutkan lomba jsit di Kudus. Aku dipilih menjadi wakil dalam pelajaran IPS, padahal waktu itu aku paling nggak suka pelajaran IPS. Sempat juga memohon pada guruku untuk dipindah mapelnya. Mungkin IPA atau matematika, tapi guruku tetap kekeuh dengan mengajukanku dalam pelajaran IPS. Mau tak mau aku pun harus belajar ekstra.
Waktu itu ibu punya tape recorder baru dan aku senang bermain dengan itu. Kurekam suaraku sendiri yang sedang membaca pelajaran IPS dan kemudian aku mendengarkan suaraku lagi sambil komat-kamit menghafalkan.

Waktu di Kudus, kami menginap di hotel yang aku tak ingat namanya. Di sana kami bertemu dengan SDIT Cordova yang jauh-jauh dari Kalimantan dan akan mengikuti lomba ini juga. Aku semakin tertantang karena lawannya se-Jateng, DIY, Jatim, dan Kalimantan.

Hari lomba pun tiba. Yang jadi jurinya ternyata teman ibuku. Awalnya aku tidak mengenalnya, tapi karena beliau menyapaku. Aku jadi tahu. Hehehe
Perlombaan pun dimulai. Suasana hening.


Ini mah ceritanya nggak sedikit tapi banyak amat. Hahaha
To be continyuut ah!

0 coretan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...