Kamis, 10 Mei 2012

[CERBUNG] Takdir Abal-Abal Episode 3

 
Ukhuwah itu bukan hanya berteman dekat. Berkenalan dengan ukhuwah membuat dunia lebih bersahabat. Dua hati bertaut atas nama Allah, bersatu dalam naungan Ilahi. Peluh tak terasa saat bersama ukhuwah. Sakit menguap ketika ukhuwah menyapa. Subhanallah...

Lembayung mulai memainkan aura misteriusnya. Sayup-sayup nyanyian adzan terdengar merdu, menimbulkan getaran-getaran udara yang menjalari hati pengingat TuhanNya. Gelombang itu menghantarkan suara indah nan lembut, menuntun hati pendengarnya turut menjawab panggilan Agung tersebut.

Beberapa warung makan masih tampak ramai dengan para pembelinya, Aku dan Sasa juga turut andil dalam keramaian tersebut, mengantre nasi rames. Suara adzan membuat Aku dan Sasa semakin merasa diburu waktu. Kami membeli makan untuk buka puasa. Kesalahan fatal yang kami lakukan adalah membeli makan menjelang maghrib. Ternyata begini suasananya, ramai plus lama.


"Udah maghrib nih, kita belum kemasukan apa-apa," gerutuku pada Sasa.

"Sabar ngapa?! Itu juga lagi dibikin. Lagian nggak puasa juga, ngapain ikut-ikutan sok puasa," ledek Sasa padaku.

"Iya juga ya, tadi kan aku habis minum. Hahaha.., lupa saya." Sasa memasang wajah dongkol melihat tampangku yang tanpa dosa.

Akhirnya makanan siap, kami pun langsung tancap gas dan memilih makan di kos. Suasana kos tampak sepi saat kami sampai di depan halaman kos. Rupanya semua penghuni kos sedang berkumpul selesai melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

"Kalian darimana saja? Sudah buka? Sudah sholat?" tanya mbak Nana serasa menginterogasi. Kami yang baru saja masuk terkejut. Waduh! Aku dan Sasa memang belum ijin untuk keluar tadi, apalagi sampai maghrib begini. Kami kan masih pendatang baru.

Agak salah tingkah kami hendak menjawab, akhirnya Aku angkat bicara, "Tadi kami membeli makan Mbak, warungnya antre lama jadi kami pulangnya agak terlambat." Sasa hanya menunduk merasa bersalah.
Mbak Nana hanya terdiam melihat kami. Kemudian Ia memberi kesempatan untuk kami segera berbuka dan sholat maghrib.

"Makin canggung dah nih suasananya," kataku di sela antre wudhu dengan Sasa.
Mengawali masuk kuliah adalah saat bulan Ramadhan tiba. Hari itu tanggal 16 Agustus 2011 hari ke-16 dimana seluruh umat muslim di dunia melaksanakan ibadah puasa. Sempat terbersit juga dalam benakku apa jadinya jika nanti ada adegan kediktatoran kakak angkat terhadap kami semua yang dalam keadaan berpuasa, tapi itu hanyalah bayangan su’udzonku. Tentu jika hal itu terjadi akan ada tindakan dari atasan, negara ini kan negara hukum bukan?
Aaah.. Berhenti berpikiran yang aneh-aneh dan terlalu jauh. Sekarang yang terjadi adalah Aku dan Sasa anak baru dan numpang di sini. Hari pertama kami sudah pulang terlambat.

Selesai sholat kami berkumpul bersama di ruang tengah. Semua orang sudah berkumpul. Suasananya seperti sidang saja, sebagai tersangka Aku dan Sasa. Kami duduk di samping Mbak Nana.

“Sudah selesai shalat?” tanya Mbak Nana lembut. Tapi Aku dan Sasa mendengar pertanyaan itu sebagai dakwaan karena terlambat pulang. Kami hanya mengangguk takut. “Nggak usah tegang begitu, di sini kita cuma mau saling kenal kok,” kata Mbak Nana senyum. Yang lain juga tersenyum, beberapa malah menahan tawa karena geli melihat tingkah kami yang serius.

“Udah nyantai aja, kita nggak nggigit kok. Aku juga mahasiswa baru di sini,” ucap Dina dengan senyuman. Aku kira dia anak yang pendiam.

Haa?? Ternyata… Uuh.. Kirain mau dimarahi gara-gara telat pulang. Hahaha. Jadi begitulah, kami berkenalan satu persatu. Ada Rina, Mbak Nana, Hanum, dan Nina. Tentu saja Dina juga ikut serta. Di awal aku menyebutkan ada tujuh orang yang tinggal. Tetapi saat itu hanya ada lima orang yang sedang berkumpul, sedangkan yang lainnya aku tidak tahu.

1 coretan:

Falzart Plain mengatakan...

komentar lagi ah (penuh-penuhin komentar). Sekarang udah tahu saya ada di mana ini, cuman belum tahu mau dibawa ke mana ceritanya. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...