Jumat, 18 Mei 2012

[CERBUNG] Takdir Abal-Abal Episode 5


“Siaaaaaaaapp graaak!!!” teriak mereka hampir bersamaan. Kami semua segera menyiapkan diri dalam barisan. “Yang tinggi di belakang!” ucap senior lagi dengan wajah sangar.
            Tak urung kami belingsatan menemukan posisi yang tepat untuk baris. Yang merasa tinggi langsung ke belakang, yang merasa pendek di depan. Tetapi itu tak berjalan mulus karena ada yang pendek tapi tidak mau depan sedangkan yang tinggi inginnya di depan. Kalau aku baris di bagian lumayan depan, karena aku termasuk orang yang ingin di depan tak mempedulikan tinggi badan.
            Senior di depanku sedikit melotot padaku karena aku tidak mau baris di belakang. Tapi aku cuek saja dengan seniorku itu, toh hanya mata yang melotot bukan mulut yang berkicau. Haha
            Sebenarnya aku bukan termasuk orang yang rapi dalam berbaris. Selalu saja bergerak sana-sini tak peduli dengan yang lain. Kalau bosan mengajak bicara teman sebelah sampai pernah dimarahi gara-gara terlalu berisik.
            “Siaaaaaaaapp graaak!!” kali ini suara senior yang ada di depan lapangan. Ia yang tadi membunyikan megaphone. Tampilannya seperti senior yang lain, memakai baju hitam-hitam dengan celana warna hitam. Tak lupa topi yang Ia pakai pun berwarna hitam. Sekilas aku merasa Ia seperti anak punk yang biasanya serba tak rapi dan dekil, tapi wajahnya terlalu bersih untuk tuduhan itu padanya. Ia sedang berkicau tentang perkenalan.
            “Sebelum kalian menjalani agenda ospek tanggal 18 Agustus. Besok kalian akan melaksanakan upacara 17 Agustus di lapangan FIK. Nantinya sebelum berangkat kalian akan berkumpul di FBS dengan atribut yang sama seperti ini. Mengerti kalian semuaaaa?” ucapnya dengan lantang.
            “Mengertiiiiii..,” jawab kami kompak.
            “Baiklah setelah ini kalian akan dikumpulkan per kelompok dan nanti kalian akan dibawa oleh senior masing-masing ke suatu tempat. Dari saya cukup sekian, Wassalamu’alaikum”
            Semuanya bertanya-tanya apa agenda selanjutnya. Tetapi tidak ada yang tahu karena tidak ada pemberitahuan sama sekali mengenai agenda ospek. Satu persatu tiap kelompok dipersilahkan meninggalkan lapangan. Malangnya kelompokku menjadi bagian kedua terakhir yang meninggalkan lapangan. Suasananya sudah sangat panas.
            Kelompok Setaria berjalan menuju sebuah bangunan. Bangunan itu belakangan aku tahu adalah gedung B6. Tempat itu merupakan gedung pertunjukan dengan panggung di dalamnya. Ruangannya cukup luas. Bisa menampung kami semua para maba. Tetapi gedung itu sekarang tertutup. Kami tidak masuk ke dalamnya melainkan hanya berada di samping gedung B6 yang lebih teduh.
            Kami dibariskan masih berdasarkan tinggi. Setelah rapi kami dipersilahkan untuk duduk. Tiap kelompok ada dua senior. Yang satu sebagai senior utama dan yang satu senior bantuan, anggap aja seperti itu. Hehehe
            “Baiklah temen-temen semua, ada yang udah kenal saya?” tanya senior utama dengan senyuman. Akhirnya senior itu bisa tersenyum juga. Rupanya tadi hanya acting. Biasalah.., sepertinya ini sering terjadi di berbagai tempat saat awal masuk sebuah lembaga.
            Kami tak ada yang menjawab pertanyaan itu satupun.
            “Nama kakak Inasaningtyas. Kalian bisa memanggil mbak Inas atau mbak Tyas,”
            “Kalau mbak Yayas?” celutuk seorang anak lelaki.
            “NO!! Kalau itu!” ucap Mbak Inas keras tetapi tidak marah.
            “Waaah.. berarti itu panggilan kesukaan dong.. Halo Mbak Yayas,” anak itu malah semakin ingin menggoda Mbak Inas. Semua anak menertawakan kejadian itu.
            “Ssst.. sudah ah. Sekarang kita perkenalan satu persatu. Berhubung kita akan selalu bersama dalam tiga hari, maka semuanya harus saling mengenal satu persatu. Tadi kan Mbak Inas sudah perkenalan, sekarang gantian rekan mbak terus dilanjutkan kalian yaa..”
            Meluncurlah satu persatu guliran nama 35 anak yang tergabung dalam Setaria. Aku sendiri tak mengingatnya sama sekali. Maklumlah aku bukan pemilik ingatan fotografis yang bisa menghafalkan semua nama dalam sekali pertemuan. Butuh waktu dan pertemuan intens yang akan bisa membuatku hafal nama mereka :D

Bayangan kelam lantaran hati sendu gelisah. Baru saja perjuangan ini dimulai. Benteng pertahanan tak mampu lagi membendung serbuan tentara ababil sejak masa lalu. Benteng itu mulai roboh bersamaan dengan meletupnya semangat asa impian.
Baru saja ya baru saja…

1 coretan:

Falzart Plain mengatakan...

Kalau saya dulu, 'no smile from senior'... Semuanya dibuat seolah-olah 'nggak akting.'

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...