Kamis, 10 Mei 2012

[CERBUNG] Takdir Abal-Abal Episode 2

Keesokan harinya aku bersama Sasa -- kawanku sejak masa sekolah – pergi ke kos. Sebenarnya Aku belum menentukan akan kos atau tidak di perguruan tinggi yang baru itu, karena sebenarnya aku akan laju dari rumah budhe yang berjarak hanya 30 menit perjalanan dengan motor.

Tetapi ternyata Sasa mengajakku untuk ngekos sementara selama masa ospek berlangsung. Kosnya sedikit unik, karena disitu tak hanya sekedar sebagai tempat tinggal tetapi juga tempat pembentukan akhlak. Hmm.., maksudnya begini kos itu memiliki berbagai program keislaman, jadi yang kos di situ nggak sia-sia cuma numpang tidur tapi juga bisa nambah ilmu agama. Selain itu bentuknya juga tidak seperti kosan biasa yang setiap orang bisa berlalu lalang masuk. Kosnya dalam bentuk satu rumah hunian, sehingga lebih terbebas dalam melakukan aktifitas.

Sampai di tempat kosan, tempat itu sepi tak ada orang. Aku dan Sasa bengong menunggu di depan kos.

Untung saja aku bersama Sasa, Ia kawanku sejak masa kelas 1 SD. Kami selalu bangga ketika membicarakan hal itu pada semua orang. Sebenarnya Ia memiliki nama asli Arissa Ayundiya, tetapi aku lebih suka memanggilnya Sasa lebih mudah saja diucapkan, sejak aku mengganti namanya itu orang-orang juga mengikuti jejakku memanggilnya Sasa. Pernah Sasa memprotes karena namanya sudah kuganti, Ia menuntut haknya untuk diadakan syukuran atas bergantinya nama panggilan miliknya. Aku menyanggupi permintaan Sasa -- saat itu masa SMA -- kubawa Ia ke sebuah restoran kelas menengah, tak lupa aku juga mengajak sahabat-sahabat kami untuk merayakannya bersama. Kami sudah memesan makanan sesuai selera masing-masing. Tiba-tiba aku mendapat telepon dari kawanku, memintaku untuk segera datang ke rumahnya. Langsung saja aku berpamitan pada tanpa sempat menyentuh makananku. Semua rekanku mengiyakan hanya Sasa yang bengong melihat kepergianku.
“Lalu siapa yang membayar semua makanan ini?” tanya Sasa pada semua orang. Semuanya terdiam menghentikan makanan. Tepat saat itu aku tertawa terbahak-bahak di balik pintu keluar restoran. Hahaha…

Siluet itu muncul begitu saja, jangan sampai Sasa menyadari diriku yang sedang membayangkan kembali peristiwa tersebut. Jika Ia tahu, terpaksalah aku menghabiskan satu hariku dengan omelan panjang pendek Sasa yang kesal karena Ia harus membayar semua makanan yang sudah dipesan kala itu.

Cukup lama kami menunggu seseorang membukakan pintu. Tetapi belum juga ada tanda pintu dibukakakan.

“Benerkan kosnya yang ini?” tanyaku pada Sasa.

“Nggak tahu, kan aku belum pernah ke sini, tapi kayaknya sih iya,” jawab Sasa. Ia mencoba menghubungi teman yang baru saja Ia kenal sebagai tuan rumah melalui sms dihari sebelumnya.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ada rombongan para akhwat yang mendekat ke kos. Aku dan Sasa hanya saling pandang tak mengenali satu pun orang yang ada. Aku sempat khawatir bagaimana beradaptasi, karena sepertinya mereka sangat serius terhadap kami. Jangan-jangan satu minggu dihabiskan dengan saling pandang? Aaaaa tidaaaaak!!

“Assalamu’alaikum, mbak maaf kami yang mau nginap di sini,” kata Sasa sopan mengawali pertemuan. Aku hanya diam saja.

“Wa’alaikummussalam, oh iya ayo masuk. Maaf ya nunggu lama tadi kami habis ada acara,” kata salah satu orang yang belakangan aku tahu namanya mbak Nana. Ia mengambil kunci yang berada di rak sepatu lalu kami semua masuk ke dalam kos.

Di dalam kos ada 5 kamar yang tiap kamarnya dihuni oleh 2 orang. Kami diperbolehkan menginap sementara karena beberapa dari penghuni kos ada yang pulang kampung, sehingga beberapa kamar kosong. Saat ini yang menghuni di kos ada 7 orang.

Aku dan Sasa menunggu di ruang tamu dengan barang yang berjubel banyaknya. Kami tidak berani masuk lebih dalam karena merasa kurang sopan. Lagipula sepertinya kami sedang dicarikan kamar untuk tempat tinggal.

Seseorang mengajakku ke belakang dan mempersilahkan barang-barangku diletakkan dikamar tersebut. Aku sekamar dengan Dina, kebetulan Ia mengambil jurusan seni rupa. Sasa ada di kamar paling depan, kebetulan sekali mereka satu jurusan. Kami masih saling canggung satu sama lain. Agak kecewa juga karena tidak sekamar dengan Sasa, jadi aku harus beradaptasi lagi dengan teman sekamarku.

Bagaimana ini? Kenapa saling diam seperti ini?

1 coretan:

Falzart Plain mengatakan...

belum ada bayangan kenapa dan apa yang terjadi... Jadi, ini ngekos di tempat yang gimana ya? Lanjut ah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...