Pages

Senin, 14 Mei 2012

[CERBUNG] Takdir Abal-Abal Episode 4

Keesokan harinya entah siapa yang mengomando, kami semua bangun pagi. Ah iya! Aku lupa kalau ini bulan puasa pastinya semua orang bangun untuk sahur. Aku yang sebenarnya tidak puasa pun terpaksa ikut sahur. Kalau tidak aku tak akan bisa sarapan karena mungkin saja warung yang ada sudah kehabisan stok. Pikirku saat itu.

“Pi, kamu mau makan apa?” tanya Sasa ditengah usahaku mengumpulkan kesadaran.

“Apa aja deh.. terserah kamu,” jawabku malas.

Pagi itu Sasa dan Nina membeli makan sahur di warung samping kos. Teman yang lain sedang melaksanakan shalat tahajud sembari menunggu makanan datang. Aku masih berusaha mengumpulkan kesadaranku di kasur. Sebenarnya itu bukan sebuah usaha karena aku tak juga beranjak dari tempat itu.

Sasa sudah datang membawakan makanan. Ia memaksaku terjaga dari ketidaksadaran yang kusengaja. Hahaha. Aku beranjak dari tempat tidur menuju ruang tv. Di sana semua orang sudah berkumpul menyantap sahur. Aku santai saja karena memang tidak terlalu di buru waktu shubuh.

“Opi nggak puasa?” tanya Mbak Ita.

“Enggak mbak. Hehe”

Hari ini hari pertama kami menjalani ospek. Tentu saja karena ini permulaan kami semua sangat bersemangat.Setelah shalat shubuh berjamaah, kami semua bergantian mandi. Semuanya ribut mempersiapkan atribut yang harus dipakai. Kemeja putih dengan rok hitam serta kerudung hitam. Tak lupa harus mengenakan ikat pinggang juga cocard tanda pengenal yang bisa dibeli di warung seharga 500. Harus menggunakan kaos kaki putih dengan sepatu hitam. Mirip seperti guru yang sedang PPL di sekolah dulu. Namanya juga calon guru.

Kami tergopoh-gopoh bersegera berangkat menuju kampus. Ini hari pertama, tak ada kata terlambat. Alhasil, kami semua berangkat pukul 6 pagi padahal jam sebenarnya adalah 7.30.

Rupanya tak hanya kami yang berpikiran seperti itu. Banyak para maba –singkatan dari mahasiswa baru—yang juga datang pagi-pagi. Saat sampai di kampus, lingkungan kampus sudah tampak ramai dengan seragam hitam putih.

“Wow! Banyak juga ternyata mahasiswanya. Mungkin sekitar 1000an kali ya yang masuk FBS,” kataku terperangah melihat betapa banyaknya daftar maba yang ada pada papan pengumuman.

Papan pengumuman itu ternyata berisi informasi tentang pembagian kelompok selama masa ospek berlangsung. Semua nama maba FBS tercantum dalam daftar. Kami semua harus mencari nama masing-masing satu persatu. Oh ya, aku belum cerita. FBS itu singkatan dari Fakultas Bahasa dan Seni.

Aku dan Sasa mencari nama masing-masing. Beberapa sudah menemukan namanya dan segera menuju lapangan. Aku masih mencari namaku sedangkan Sasa dan lainnya sudah ke lapangan menuju kelompok masing-masing. Akhirnya aku mendapati namaku tersembul dalam kelompok Setaria.

“Ah! Ini dia..!” teriakku girang. Aku segera berlari kelapangan dan mencari nama Setaria. Tanpa kusadari aku telah terpisah dengan Sasa dan teman-teman baruku.

Aku berjalan menyusuri lapangan. Di tengah lapangan sudah berjajar para senior dengan papan nama kelompok. Hiruk pikuk maba yang belum menemukan kelompoknya menambah suasana berisik. Debu-debu beterbangan tak karuan karena gesekan sepatu para maba yang berputar-putar mencari papan nama.

“Lah? Kelompokku dimana?” Cukup lama aku mencari papan nama kelompokku.

Olala.., ternyata kelompokku ada di pojok lapangan. Pantesan nggak ketemu-ketemu. Di sana aku bertemu dengan maba yang juga kelompok Setaria. Kenalan lagi deh. Tahun ini jadi ajang kenalan buatku. Hahaha
Seorang senior masih memegang papan Setaria di depan. Ia hanya diam saja tak menghiraukan kami yang sengaja menunjukkan sikap ingin berkenalan. Wajahnya dibuat sesangar mungkin, sebenarnya Ia memiliki wajah yang lembut. Tetapi karena Ia sengaja memasang wajah yang menakutkan, maka Ia berhasil menakuti kami untuk tidak dekat-dekat dengannya.

Tiba-tiba terdengar suara sirine megaphone yang berasal dari muka lapangan. Tiba-tiba saja semua senior menurunkan papan namanya dan berteriak lantang pada kami.

1 coretan:

Falzart Plain mengatakan...

Satu lagi yang saya tahu di sini, cerita ini pakai tokoh utama dengan menggunakan nama penulisnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...